Pentingnya Google Classroom

Google classroom merupakan salah satu aplikasi yang membantu guru atau dosen saat proses pembelajaran. Kegunaan aplikasi ini sangat beragam, mulai dari memberikan materi, memberikan dan mengumpulkan tugas, kuis, presentasi, bahkan memberi nilai ke siswa atau mahasiswa.
“Google classroom menjadi salah satu media yang banyak membantu guru dan siswa untuk berinteraksi ke dalam pembelajaran,” begitu kata Ali Tamujin, S.T., M.Cs.
Ia menerangkan tema “Pengenalan Sistem Informasi Akademik di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan Pemanfaatan Google Classroom” ini kepada mahasiswa PPG. Acara menarik tersebut diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UAD, dan berlangsung di kampus 5 Jln. Ki Ageng Pemanahan, Sorosutan, Yogyakarta, Jumat (3/8/2018) pagi.
Lebih lanjut Ali menjelaskan, Google classsroom adalah suatu aplikasi yang sangat fleksibel. Aplikasi ini tidak hanya bisa dibuka di komputer saja, tetapi di handpone androaid juga bisa. Kelebihan lainnya, aplikasi bisa untuk chatting layaknya aplikasi Messager ataupun WhatsApp. Dengan itu, antara guru dan siswa lebih mudah untuk berinteraksi.
“Google classroom sangat berpengaruh bagi guru di sekolah, mulai dari memudahkan siswa dan guru untuk berinteraksi lebih dekat, serta memudahkan orang untuk bekerja. Aplikasi ini sejak tahun 2000-an sudah aktif digunakan oleh guru-guru di Indonesia. Bebeberapa dosen di UAD pun sudah ada yang memakai, meski tak semua,” paparnya.
Ia berharap, semoga dengan pelatihan ini, peserta PPG dapat menerapkan kemudahan Google classroom ketika nanti menjagi guru. (ASE)



Bidang kesehatan reproduksi menjadi perhatian khusus Dr. Sitti Nur Djannah, M.Kes., salah seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Sebagai seorang akademisi yang peduli terhadap permasalahan di masyarakat, pada disertasinya ia memilih meneliti perilaku seks remaja.


Sering kali, mahasiswa mengabaikan kegiatan yang dilimpahkan dalam organisasi dan komunitas di luar maupun dalam kampus. Paling parahnya, justru yang diabaikan adalah kegiatan yang bisa menuntun untuk berpikir lebih luas. Untungnya, hal ini tidak berlaku untuk mahasiswa asal Pekalongan Jawa Tengah bernama Retina Chika Ardeviya Rista.
