Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah dalam Peristiwa Fathu Makkah

Ustadz Ahmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I. saat mengisi Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center UAD. (Foto. Itoshiko)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 11 Januari 2026, dengan menghadirkan Ustaz Ahmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I. dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah sebagai pemateri. Kajian kali ini mengangkat tema “Sirah Nabawiyyah: Pelajaran Fathu Makkah, Akhlak Mulia dalam Kemenangan.”
Mengawali pembahasannya, Ustaz Ahmad Arif mengingatkan jemaah mengenai keutamaan waktu saat ini yang bertepatan dengan bulan Rajab. Ia menjelaskan bahwa Rajab adalah satu dari empat bulan haram (suci) di mana setiap amal saleh yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt., begitu pula dengan sanksi bagi mereka yang berbuat maksiat. Ia mengajak jemaah untuk memanfaatkan momentum bulan haram dan keberadaan di tanah yang dimuliakan (masjid) untuk menggali ilmu dari sejarah Nabi.
Masuk pada inti materi, Ustaz Ahmad Arif mengisahkan peristiwa di balik Fathu Makkah, salah satunya kisah sahabat Hatib bin Abi Balta’ah. Hatib sempat melakukan kesalahan fatal dengan membocorkan rencana pergerakan kaum muslimin ke Makkah demi menyelamatkan keluarganya. Namun, ketika Umar bin Khattab hendak menghukumnya, Rasulullah saw. mencegahnya dengan alasan Hatib adalah seorang Ahlu Badar (peserta Perang Badar) yang telah mendapatkan rida Allah.
“Kita tidak punya hari-hari itu lagi (Perang Badar), tapi sahabat punya. Rasulullah mengajarkan kita untuk mengingat kebaikan dan jasa seseorang di masa lalu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ustaz Ahmad Arif menyoroti sikap amanah Rasulullah saw. melalui kisah Utsman bin Thalhah, pemegang kunci Ka’bah. Saat berhasil menguasai Makkah, Rasulullah justru mengembalikan kunci tersebut kepada Utsman bin Thalhah dan menegaskan bahwa kunci itu akan tetap dipegang oleh keluarganya selamanya. Padahal, saat itu keluarga Rasulullah sendiri (Bani Hasyim) meminta hak memegang kunci tersebut, namun beliau menolaknya demi menegakkan keadilan dan amanah, bukan aji mumpung saat berkuasa.
Menutup kajian, pemateri menekankan bahwa inti dari kemenangan Fathu Makkah adalah kemampuan memaafkan. Rasulullah saw. memilih memaafkan penduduk Makkah yang telah menyakiti dan memusuhi beliau selama puluhan tahun dengan mengutip perkataan Nabi Yusuf as., “Tidak ada celaan bagi kalian hari ini, semoga Allah mengampuni kalian”. Sikap menahan ego dan memaafkan saat berada di puncak kekuatan inilah yang menjadi pelajaran akhlak terbesar bagi umat Islam. (Ito)
