Menjaga Hafalan 30 Juz di Tengah Padatnya Perkuliahan

Alya Nur Fadhillah mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang hafal 30 juz Al-Qur’an (Foto. Vita)
Tidak ada kata terlambat untuk mulai menghafal Al-Qur’an. Demikian penuturan Alya Nur Fadhillah dalam Live Podcast Persada UAD Talk, 3 Oktober 2026. Podcast ini mengambil tema “Menjaga Hafalan Qur’an di Tengah Hiruk-Pikuk Perkuliahan” dengan narasumber Astiana Hikmaulia, seorang mahasiswa Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang juga merupakan seorang hafizah.
Dalam ceritanya, mahasiswi yang akrab disapa Asti ini merupakan penerima beasiswa Hafiz Qur’an yang memiliki hafalan 30 juz. Hidup di lingkungan agamis membuatnya memantapkan diri untuk masuk ke pesantren. Masa SMP dan SMA ia habiskan di pondok pesantren.
“Saya memulai hafalan juz 30 saat masih TK. Kemudian di pondok SMP dan SMA selama enam tahun. Untuk pendalaman menghafal Al-Qur’an sewaktu SMA. Jadi, di tiga tahun terakhir sekolah,” kata Asti.
Selama enam tahun masa di pondok pesantren, Asti berhasil menghafal 5 juz saat SMP dan menyelesaikan sisanya di SMA, tepatnya sampai tahun kedua. Bukan sekadar menghafal, tetapi juga mendalami dan menjaga hafalannya.
Asti juga menceritakan mengenai kegiatan yang ia lakukan selama di pondok pesantren. Setiap hari ada waktu untuk murajaah (meninjau dan mengulang hafalan Qur’an) dan ziyadah (menambah hafalan) yang dilaksanakan di pagi, sore, maupun malam hari.
Prestasinya itu akhirnya membawanya masuk dunia perkuliahan. Asti masuk ke Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui jalur beasiswa Hafiz Qur’an. Awalnya, ia sempat khawatir akan hafalannya karena di dunia perkuliahan, tidak ada jadwal ketat yang mengatur kegiatan murajaah seperti di pesantren. Namun, ia mengetahui bahwa salah satu syarat beasiswa adalah tinggal di Persada. Kegiatannya juga serupa dengan di pesantren yang bisa menunjang hafalannya.
Selama satu tahun di Persada, Asti berhasil setoran 30 juz, sementara target umumnya adalah 10 juz dalam setahun. Meski berhasil menyelesaikan setoran 30 juz dalam satu tahun, ia tetap merasa resah. Ia khawatir hafalannya akan hilang. Hal ini dikarenakan padatnya jadwal perkuliahan dan organisasi yang ia ikuti.
Kekhawatiran yang ia takutkan adalah saat ia keluar pondok dan hafalannya akan terganggu karena ia sendiri masih kesulitan mengatur waktu, berbeda dengan saat berada di pondok yang alur kegiatan sudah diatur untuk para santri. Belum lagi saat ia harus membagi waktu dengan kegiatan organisasi di kampus. Hal itu juga akhirnya membuat ia beberapa kali menunda-nunda rutinitas murajaah yang biasa ia lakukan.
“Sampai saat ini saya masih mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus sembari menjaga hafalannya. Saya terkadang masih kurang konsisten melakukan murajaah. Jadi memang harus berusaha lebih maksimal.”
Asti juga membagikan beberapa tips agar hafalan Qur’an bisa tetap terjaga di samping jadwal perkuliahan yang padat. Pertama, menyempatkan waktu untuk murajaah. Kedua adalah memaksimalkan waktu yang ia punya, terutama setelah subuh untuk mengaji atau untuk murajaah. Ia juga mengatakan kalau lingkungan yang baik juga menjadi faktor utama dalam mendukung hafalannya. Terakhir adalah harus mempunyai kemauan dan target untuk menjaga hafalannya.
Ia mengatakan bahwa banyak orang yang juga berusaha tetap menjaga hafalannya seperti dirinya. Dengan memantapkan diri dan yakin bahwa hafalan itu adalah tanggung jawab besar, sehingga perlu meyakinkan diri dan menyempatkan waktu untuk murajaah hafalannya. (vta)
