Tanya Jawab: Dinamika Perempuan Berkemajuan Menghadapi Ketimpangan Sosial

Pengajian Ramadan 1446 H PWA DIY di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Pengajian Ramadan 1446 H di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjadi saksi berlangsungnya sesi terakhir diskusi bertajuk “Dinamika Perempuan Berkemajuan dalam Menghadapi Ketimpangan Sosial”. Acara ini diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) pada Minggu, 16 Maret 2025, yang menghadirkan Prof. Siti Syamsiatun, Ph.D. selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah sebagai pemateri utama, ditemani dengan Hafizhotu Diyanah, S.S.T. selaku moderator.
Sesi tanya jawab menjadi bagian yang menarik dalam pengajian ini. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah, “Bagaimana kita bisa memviralkan dakwah kita di dunia maya? Bagaimana hukumnya kita ketika menjadikan situs-situs di luar Muhammadiyah sebagai referensi, karena terkadang kita kesulitan menemukan hadis yang autentik di situs Muhammadiyah?”
Prof. Siti Syamsiatun menanggapi dengan menjelaskan bahwa penggunaan teknologi harus disesuaikan dengan kebutuhan jamaah. Ia juga menekankan bahwa Muhammadiyah telah menyiapkan platform digital yang berisi referensi resmi, termasuk keputusan-keputusan dan pedoman dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, yang dapat diakses oleh jamaah.
“Kalau jamaah kita usianya sudah lanjut, ya tidak perlu diajari digital. Namun kalau ibu-ibu muda, ini perlu, karena mereka akan berhadapan dengan anak-anak yang sejak lahir sudah akrab dengan gadget,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, seorang peserta bertanya, “Saat ini banyak ranah sosial yang perlu kita introspeksi, tetapi juga terdapat keterbatasan sehingga perlu kolaborasi dengan semua pihak. Apa yang bisa kita lakukan sehingga majelis kita bisa optimal?”
Menanggapi hal tersebut, Prof. Siti menekankan pentingnya kerja sama dengan berbagai pihak. Ia juga menyarankan kolaborasi dengan majelis tablig dalam menghadirkan penceramah yang sesuai dengan kebutuhan jamaah.
“Kita bisa bantu dalam penelitian, misalnya dengan mendokumentasikan perubahan dari dulu hingga kini, bagaimana ‘Aisyiyah berhasil memberdayakan perempuan,” jelasnya.
Berakhirnya sesi tanya jawab menutup pengajian dengan penuh antusiasme dari para peserta. Diskusi yang berlangsung tidak hanya membuka wawasan tentang peran perempuan dalam menghadapi ketimpangan sosial, tetapi juga memberikan pemahaman praktis mengenai strategi dakwah di era digital. Dengan adanya pemaparan solusi dan kolaborasi yang ditawarkan, diharapkan para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan kontribusi mereka dalam dakwah dan pemberdayaan masyarakat. (Septia)