Ngaji Tafsir At-Tanwir Seri 12 UAD, Kupas Makna Syukur dalam Surah Al-Baqarah Ayat 47-53

Ngaji Tafsir At-Tanwir Seri 12 UAD, Kupas Makna Syukur dalam Surah Al-Baqarah Ayat 47-53
Lembaga Pengembangan dan Studi Islam (LPSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Ngaji Tafsir At-Tanwir Seri ke-12 pada Jumat, 21 November 2025 melalui platform Zoom dan siaran langsung YouTube LPSI UAD. Pada kesempatan ini, Jannatul Husna, Ph.D., Kaprodi Ilmu Hadis UAD sekaligus anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, menyampaikan penafsiran Surah Al-Baqarah ayat 47-53 dengan fokus pada tema besar peringatan Allah kepada Bani Israil serta makna syukur yang harus ditegakkan oleh setiap umat.
Dalam pemaparannya, Dr. Jannatul Husna menjelaskan bahwa rangkaian ayat tersebut dibuka dengan ajakan agar Bani Israil mengingat berbagai nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Menurutnya, perintah ini bukan hanya bersifat historis, tetapi juga relevan bagi umat Islam hari ini. “Poin yang dapat kita tarik dari ayat ini adalah tentang esensi syukur dan nikmat Allah. Allah memerintahkan untuk mengingat, menyebut, dan mengenang nikmat sebagai bentuk kewajiban moral dan spiritual,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa nikmat harus digunakan sesuai kehendak Allah, yakni untuk kebaikan dan ketaatan. Penggunaan nikmat secara benar akan membawa dampak positif bagi pribadi dan masyarakat, sedangkan penyelewengannya akan menimbulkan kerusakan moral maupun sosial. “Nikmat yang Allah berikan mengharuskan adanya pertanggungjawaban. Ketika nikmat digunakan dalam kebaikan, dampaknya akan sangat besar. Sebaliknya, jika diselewengkan, ia membawa pengaruh negatif,” jelasnya.
Lebih jauh, ayat-ayat tersebut juga mengingatkan posisi istimewa Bani Israil yang diberi berbagai kelebihan, termasuk diutusnya banyak nabi dari garis keturunan mereka dan penyelamatan mereka dari kezaliman Firaun. Namun, keistimewaan itu justru sering dibalas dengan pengingkaran dan penyimpangan. “Allah mengulang perintah syukur karena syukur adalah satu kefarduan. Bani Israil diberi banyak nikmat, mulai dari dibebaskan dari Firaun hingga diturunkan kitab Taurat, namun mereka kerap mengingkarinya,” terang Dr. Husna.
Pada bagian akhir, ia menekankan bahwa meskipun ayat tersebut berbicara langsung kepada Bani Israil, pesan moralnya tetap berlaku untuk umat Islam. Sikap syukur harus diwujudkan dalam menepati janji, menegakkan keadilan, tidak mencampuradukkan yang hak dan batil, menunaikan salat, serta menjadikan ibadah sebagai sarana mendekat kepada Allah. “Perintah ini adalah pengingat bagi kita hari ini untuk mensyukuri nikmat berupa agama tauhid dan kemuliaan yang Allah titipkan kepada umat Islam,” tutupnya. (Mawar)
