Penguatan Pengelolaan Media Sosial

Dr. Rully Nasrullah, M.Si. (Foto. Humas UAD)
Rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Humas Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) 2025 berlanjut dengan sesi keempat yang menghadirkan pakar media digital, Dr. Rully Nasrullah, M.Si. Dalam kesempatan tersebut, ia membahas strategi pengelolaan media sosial yang relevan bagi unit kehumasan PTMA di tengah dinamika komunikasi digital.
Dalam paparannya, Dr. Rully menekankan pentingnya memahami karakteristik audiens sebelum memproduksi konten media sosial perguruan tinggi. Menurutnya, banyak akun institusi yang mengunggah konten rutin dan formal, namun tidak memberikan nilai tambah bagi mahasiswa, orang tua, maupun masyarakat. “Ketika netizen membuka akun perguruan tinggi Muhammadiyah, value apa yang mereka dapatkan?” ujarnya.
Ia menilai bahwa saat ini sekitar 80 persen konten media sosial kampus berisi aktivitas seremonial yang tidak memiliki fungsi signifikan bagi audiens utama. Karena itu, ia mendorong humas PTMA untuk melakukan evaluasi dan audit konten secara berkala agar lebih tepat sasaran.
Sebagai solusi, Dr. Rully menyarankan agar PTMA memiliki dua jenis akun media sosial. Satu akun bersifat formal sebagai kanal resmi institusi, sementara akun kedua berfokus pada konten keseharian kampus yang lebih dekat dengan mahasiswa dan publik. “Akun formal tetap diperlukan, tetapi akun yang menampilkan aktivitas sehari-hari akan menjangkau audiens secara lebih efektif,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa konten informal seperti keseharian mahasiswa, aktivitas nonformal, hingga konten ringan dapat meningkatkan interaksi dan kedekatan emosional dengan pengguna. Menurutnya, banyak kampus justru mendapatkan atensi lebih dari konten sederhana yang dikemas secara menarik.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menentukan fokus branding kampus. Apakah menonjolkan institusi, fakultas, program studi, atau kualitas dosen. Pemilihan fokus tersebut akan berpengaruh pada strategi komunikasi dan jenis konten yang akan diproduksi.
Dr. Rully juga memaparkan pentingnya memahami perilaku dan preferensi target audiens. Ia mencontohkan bagaimana perbedaan karakteristik kelompok usia, gender, dan kebutuhan dapat menentukan bentuk serta pendekatan komunikasi yang tepat dalam kampanye media sosial.
Ia menambahkan bahwa kesalahan dalam menentukan target audiens dapat menyebabkan kampus memproduksi konten yang tidak relevan. Oleh karena itu, kampus perlu melakukan analisis mendalam untuk mengetahui siapa konsumen utama dari konten mereka, baik mahasiswa, calon mahasiswa, orang tua, maupun masyarakat umum.
Dalam sesi tersebut, ia kembali menegaskan bahwa peningkatan branding tidak semata-mata ditentukan oleh frekuensi unggahan, tetapi oleh kesesuaian konten dengan kebutuhan audiens. “Sebelum memproduksi konten, identifikasi dulu siapa yang ingin Anda jangkau,” pesannya.
Dr. Rully menutup sesi dengan mengajak humas PTMA untuk beradaptasi dengan dinamika digital yang semakin kompleks. Ia menekankan pentingnya inovasi, kolaborasi, dan keberanian untuk mencoba pendekatan baru dalam komunikasi digital. Dengan langkah tersebut, diharapkan media sosial PTMA dapat memberikan manfaat lebih besar dan berkontribusi pada penguatan citra institusi. (Dnd)
