Tiga Modal Mendidik Generasi Masa Depan

Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si., penceramah tarawih di Masjid IC Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar kajian dan salat tarawih berjemaah pada rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H pada Sabtu, 28 Februari 2026. Tausiah kali ini disampaikan oleh Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.Si., Wakil Ketua LP2M PP Muhammadiyah sekaligus Dosen Psikologi UAD, yang mengusung tema “Parenting Qur’ani: Mendidik Generasi Alpha di Tengah Gempuran Budaya Pop”.
Mengawali tausiahnya, Dr. Khoiruddin mengingatkan jemaah bahwa tujuan utama ibadah puasa adalah untuk mencapai ketakwaan, sebagaimana difirmankan Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Lebih jauh, ia memaparkan bahwa muara dari ketakwaan tersebut adalah falah, yang bermakna kebahagiaan, kesuksesan, atau kesejahteraan hidup.
“Kalau banyak orang yang merasa kurang bahagia, berarti takwanya bermasalah,” tuturnya.
Dalam konteks parenting Qur’ani dan mendidik anak, ia menyoroti pentingnya mengajarkan generasi masa depan cara meraih kebahagiaan yang sejati. Dari kacamata psikologi, kebahagiaan bersifat subjektif (subjective well-being) karena sangat bergantung pada bagaimana seseorang mempersepsikan dan menginterpretasikan realitas yang ada, bukan sekadar melihat realitas objektifnya. Sikap mental ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw. yang menyebut urusan orang beriman itu amat menakjubkan, mereka senantiasa bersyukur saat mendapat nikmat dan bersabar ketika ditimpa kesulitan.
Untuk menghadapi masa depan yang serba tidak pasti dan berubah-ubah, Dr. Khoiruddin menekankan tiga modal utama yang harus ditanamkan kepada generasi mendatang. Modal pertama adalah ikhlas karena Allah Swt., yang terbukti mampu membebaskan manusia dari rasa khawatir terhadap masa depan maupun kesedihan atas masa lalu. Modal kedua adalah senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.
Modal ketiga adalah membekali anak dengan kesabaran. Ia merinci sabar ke dalam tiga dimensi, yakni sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menghindari larangan-larangan agama, dan sabar tatkala menghadapi musibah atau situasi yang tidak menyenangkan.
Di akhir tausiahnya, ia berpesan agar para jemaah dapat menularkan tiga fondasi tersebut agar anak-anak kelak menjadi generasi yang kuat. Rangkaian kegiatan malam itu pun dilanjutkan dengan ibadah salat tarawih berjemaah yang diawali dengan salat Iftitah. (Ito)
