IMM PBII UAD dan PD IPM Sleman Gelar Seminar Mental Health dan Kesetaraan Gender

IMM PBII Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan PD IPM Sleman Gelar Seminar Mental Health dan Kesetaraan Gender (Foto. Mei)
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat PPKn, PBSI, dan PBI (IMM PBII) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Seminar Mental Health dan Kesetaraan Gender berkolaborasi dengan PD IPM Sleman pada Sabtu, 25 April 2026 di Amphitheater B Gedung Fakultas Kedokteran UAD.
Pada sesi keynote speech, Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M. menyoroti bahwa isu kesehatan mental dan kesetaraan gender menjadi tantangan penting bagi generasi muda dalam menghadapi peran sebagai pemimpin masa depan. Beliau juga menegaskan perlunya ketahanan mental serta kebijaksanaan dalam menyikapi pengaruh media sosial dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.
Pemateri selanjutnya yaitu Diana Septi Purnama, M.Pd., Ph.D. menegaskan bahwa kesehatan yang utuh mencakup aspek fisik, mental, dan spiritual, dan sosial sebagaimana dirumuskan oleh World Health Organization (WHO). Ia memaparkan bahwa gangguan psikologis dapat dikenali melalui perilaku maladaptif.
Ia juga menekankan bahwa secara ilmu psikologi, batas maksimal seseorang dapat tenggelam dalam kesedihan atau emosi negatif adalah dua minggu. Apabila lebih dari jangka waktu tersebut, maka sudah masuk ke zona merah yang memerlukan bantuan profesional atau intervensi serius.
āAkar masalah self-harm biasanya dia tidak mengenal sama dirinya sendiri sehingga dia berpikiran untuk menyakiti dirinya sendiri. Salah satu metode pemulihan stres bisa menggunakan grounding, di mana kita mengembalikan diri kita ke posisi ulang. Caranya kita berjalan di atas tanah tanpa alas kaki, itu akan mengalirkan toksin-toksin dan dikembalikan ke tanah,ā ujarnya.
Selanjutnya, Dr. Dra. Trias Setiawati, M.Si. menguraikan konsep kesetaraan gender dengan membedakan sex yang bersifat kodrati dan gender yang dibentuk secara sosial dan budaya. Ia menegaskan pentingnya keseimbangan karakter maskulin dan feminin dalam diri individu.
Ia menyoroti bahwa masih ada ketidakadilan gender di zaman sekarang seperti dalam hal subordinasi, stereotip, beban ganda, dan kekerasan terhadap perempuan. Selain itu, ia juga mengangkat realitas kesenjangan dalam pola asuh dan pendidikan antara laki-laki dan perempuan yang berdampak pada kualitas individu.
āKorban kekerasan seringkali memilih diam karena tekanan sosial dan budaya yang membuat mereka merasa takut, malu, atau tidak berdaya. Padahal kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental, maka diperlukan dukungan lingkungan dan sistem yang aman agar mereka berani berbicara dan mendapatkan perlindungan yang layak.ā (Mei)
