Prodi BSA UAD Gelar Arabic World Festival

Prodi BSA Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar ajang bergengsi bertajuk Arabic World Festival (AWF) (Foto. Septi)
Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sukses menggelar ajang bergengsi bertajuk Arabic World Festival (AWF). Salah satu agenda perlombaan utama yang diselenggarakan adalah kompetisi pidato bahasa Arab (khitabah) tingkat nasional yang mengusung tema “From Bayt al-Hikmah to Digital Era: Dari Cahaya Literasi Klasik Menuju Cakrawala Teknologi”.
Acara yang berlangsung pada 10–12 Zulhijah 1447 H atau bertepatan dengan 27–29 April 2026 ini diikuti secara antusias oleh peserta dari berbagai kalangan. Partisipan tersebut mencakup siswa-siswi madrasah dan pesantren dari seluruh Indonesia, hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, seperti UAD selaku tuan rumah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan berbagai institusi lainnya.
Rangkaian perlombaan dalam festival ini berlangsung dengan khidmat dan kompetitif. Salah satu peserta, Naila Lathifa dari Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa, berkesempatan menyampaikan pidato yang mengupas tuntas mengenai relevansi kejayaan Bayt al-Hikmah terhadap tantangan literasi ilmu di era digital.
Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa Bayt al-Hikmah bukan sekadar catatan sejarah, melainkan inspirasi yang mengajarkan nilai-nilai penting, seperti cinta terhadap ilmu, keterbukaan terhadap pengetahuan, serta kemampuan mengolah informasi menjadi sebuah kebijaksanaan. Naila juga secara persuasif mengajak para audiens untuk lebih bijak dalam memosisikan kemajuan teknologi pada kehidupan sehari-hari.
“Bayt al-Hikmah mengajarkan kita bahwa umat yang besar adalah umat yang mencintai ilmu. Di era ini, kita harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat peningkatan kualitas diri, bukan justru menjadikannya sebagai pengendali hidup kita,” ujar Naila dalam pidatonya.
Melalui kegiatan Arabic World Festival ini, pihak penyelenggara berharap generasi muda dapat menyadari bahwa kemudahan akses informasi pada masa kini tidak akan menjamin kualitas ilmu jika tidak dibarengi dengan rasa tanggung jawab yang besar. Harapannya, para peserta maupun audiens dapat menggunakan media sosial dan teknologi sebagai sarana belajar yang produktif—bukan hanya untuk hiburan semata—demi meneruskan estafet literasi yang telah menyala sejak era peradaban klasik. (Septia)
