Prodi Perbankan Syariah UAD Gelar Kuliah Tamu Internasional

Prodi Perbankan Syariah Universitas Ahmad Dahlan (UAD) gelar kuliah tamu internasional (Foto. Ana)
Program Studi Perbankan Syariah Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali memperkuat komitmen akademik global dengan menyelenggarakan International Guest Lecture bertema “Islamic Social Finance Models: Lessons from Malaysia and Indonesia”. Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa, akademisi, dan praktisi ini berlangsung secara luring di Amphitarium Kampus 4 UAD pada Senin, 20 Juli 2026.
Kuliah tamu internasional ini menghadirkan dua narasumber kompeten di bidangnya, yakni Asst. Prof. Dr. Noor Aimi Mohamad Puad dari International Islamic University of Malaysia (IIUM) dan Rofiul Wahyudi, Ph.D. dari UAD. Kehadiran para pakar ini bertujuan untuk memberikan perbandingan mendalam mengenai strategi dan tata kelola keuangan sosial Islam di kedua negara serumpun.
Dalam pemaparannya, Rofiul Wahyudi, Ph.D. menyoroti penguatan pengelolaan zakat di Indonesia yang semakin akuntabel dan transparan melalui implementasi Zakat Core Principles (ZCP) serta optimalisasi kinerja Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Sementara itu, Asst. Prof. Dr. Noor Aimi Mohamad Puad memaparkan peta jalan keuangan sosial Islam di Malaysia yang ditopang oleh empat instrumen utama: Zakat, Waqf, Sadaqah, dan Qard Hasan. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan zakat dan wakaf di Malaysia didukung oleh kerangka kelembagaan yang kuat, mulai dari State Religious Councils (SRCs) di tingkat negara bagian hingga koordinasi federal oleh JAWHAR dan Yayasan Waqf Malaysia.
“Adopsi digital yang masif telah membantu lembaga zakat di Malaysia konsisten mengumpulkan dana hingga melampaui RM 1 miliar setiap tahunnya,” ujarnya. Selain itu, instrumen wakaf di Malaysia pun terbukti sukses mendukung pembangunan infrastruktur strategis seperti universitas berbasis wakaf, pusat kesehatan, hingga fasilitas pendidikan yang selaras dengan tujuan SDGs.
Diskusi interaktif tersebut juga mengupas berbagai tantangan pengelolaan, seperti tata kelola yang terfragmentasi antarwilayah serta tuntutan transparansi dari generasi muda. Oleh karena itu, penguatan harmonisasi regulasi, profesionalisme pengelola, dan inovasi berbasis fintech serta crowdfunding menjadi arah strategis ke depan.
Melalui penyelenggaraan agenda internasional ini, PBS UAD berharap para mahasiswa dan sivitas akademika dapat memperkaya wawasan global dan merumuskan inovasi kolaboratif ke depannya. (Ana)
