UAD dan UNJAYA Kembangkan Robot Pemilah Sampah Untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Hijau Di Parangtritis Bantul

Gedung Ahmad Dahlan Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Upaya membangun ekosistem ekonomi hijau melalui pengelolaan sampah berbasis teknologi terus didorong di Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui Program Kosabangsa, tim dari UNJAYA dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengembangkan program bertajuk “Membangun Ekosistem Ekonomi Hijau Melalui Komunikasi Risiko: Implementasi Robot Pemilah Sampah Guna Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Parangtritis Bantul.”
Tim pelaksana UNJAYA dipimpin oleh Zennul Mubarrok, S.E., M.Acc., sedangkan tim pendamping UAD diketuai oleh Dr. Choirul Fajri, M.A. Kolaborasi ini menghubungkan kapasitas perguruan tinggi dalam pengembangan dan penerapan inovasi dengan kebutuhan masyarakat dalam pengelolaan sampah, edukasi lingkungan, serta penguatan praktik pertanian berkelanjutan.
Program ini dirancang untuk mengintegrasikan tiga unsur utama, yaitu penerapan robot pemilah sampah, komunikasi risiko, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiganya saling melengkapi: teknologi membantu proses pemilahan, komunikasi risiko memperkuat pemahaman dan perubahan perilaku, sementara keterlibatan masyarakat menjadi fondasi bagi keberlanjutan pengelolaan sampah setelah kegiatan pendampingan selesai.
Robot Pemilah Sampah: Mendorong Pengelolaan yang Lebih Terarah
Robot pemilah sampah menjadi salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program ini. Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu proses pemilahan berdasarkan karakteristik sampah sehingga pengelolaan lanjutan dapat dilakukan secara lebih tepat. Pemilahan yang baik merupakan langkah awal untuk memisahkan material yang masih dapat dimanfaatkan, material organik yang berpotensi diolah, dan residu yang memerlukan penanganan berbeda.
Dalam penerapannya, teknologi pemilahan perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, jenis sampah yang tersedia, kemampuan operator, serta prosedur keselamatan. Karena itu, pengenalan alat perlu disertai penjelasan cara kerja, praktik penggunaan, perawatan, dan pembagian peran pengelola. Pendekatan ini penting agar teknologi tidak berhenti sebagai peralatan, tetapi dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang dijalankan masyarakat.
Pemanfaatan robot juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan sejak awal, pengangkutan yang teratur, serta pengolahan dan penyaluran material hasil pilah tetap menjadi unsur penting. Efektivitas program selanjutnya dapat ditinjau melalui indikator seperti jumlah sampah yang dipilah, tingkat ketepatan pemilahan, keterlibatan warga, dan keberlanjutan operasional alat.
Komunikasi Risiko sebagai Penggerak Partisipasi Masyarakat
Selain aspek teknologi, program ini menempatkan komunikasi risiko sebagai pendekatan penting untuk membangun pemahaman bersama mengenai dampak sampah yang tidak dikelola dengan baik. Komunikasi risiko membantu masyarakat mengenali potensi risiko terhadap kebersihan lingkungan, kualitas tanah dan air, kesehatan, serta kenyamanan ruang hidup. Pesan yang disampaikan perlu jelas, relevan dengan pengalaman sehari-hari, dan membuka ruang dialog sehingga masyarakat dapat menyampaikan pertanyaan maupun kebutuhan mereka.
Melalui edukasi dan pendampingan yang partisipatif, warga diharapkan memahami alasan pemilahan sampah perlu dilakukan, mengetahui langkah yang dapat diterapkan di rumah maupun lingkungan kelompok, serta mengenali cara menangani sampah sesuai jenisnya. Komunikasi yang baik bukan sekadar menyampaikan imbauan, melainkan membangun kepercayaan, mendengarkan pengalaman masyarakat, dan menyepakati tindakan yang realistis untuk dilakukan bersama.
Pendekatan ini juga menekankan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat. Pengetahuan, sikap, keterampilan, pembagian tanggung jawab, dan konsistensi perilaku masyarakat turut menentukan hasil. Karena itu, kegiatan komunikasi dan pendampingan perlu berjalan seiring dengan pengenalan teknologi serta pemantauan pelaksanaannya.
Menghubungkan Pengelolaan Sampah dengan Pertanian Berkelanjutan
Program ini juga mengangkat peluang hubungan antara pengelolaan sampah dan kegiatan pertanian. Sampah organik yang terpilah dan diolah dengan benar berpotensi menjadi kompos atau bahan pembenah tanah. Sementara itu, material anorganik yang masih bernilai dapat diarahkan ke jalur penggunaan kembali atau daur ulang. Dengan pengelolaan yang tepat, sebagian material yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi jumlah residu yang harus dibuang.
Pemanfaatan sampah untuk pertanian tetap memerlukan kehati-hatian. Tidak semua sampah organik dapat langsung diaplikasikan ke lahan, dan material yang tercemar bahan berbahaya harus dipisahkan. Pengolahan perlu memperhatikan kualitas bahan, kematangan kompos, serta praktik yang aman agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi tanah, tanaman, maupun manusia.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan ekonomi sirkular, yaitu menjaga agar sumber daya dapat dimanfaatkan selama mungkin dan mengurangi timbulan limbah. Dalam konteks lokal, peluang ini dapat dikembangkan melalui kerja sama antara masyarakat, kelompok tani, pengelola sampah, dan pihak lain yang relevan. Potensi manfaat ekonomi perlu dinilai berdasarkan hasil nyata di lapangan, termasuk kualitas material, biaya pengolahan, dan ketersediaan pasar.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Penguatan Kapasitas Lokal
Kolaborasi UNJAYA sebagai tim pelaksana dan UAD sebagai tim pendamping memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam membawa pengetahuan dan inovasi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kerja bersama ini diharapkan tidak hanya menghasilkan penerapan teknologi, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengelola solusi secara mandiri dan berkelanjutan.
Pelaksanaan dan pengembangan program dapat melibatkan unsur pemerintah setempat, kelompok tani, karang taruna, serta kelompok masyarakat lain sesuai kebutuhan dan kesepakatan di lapangan. Keterlibatan para pihak penting untuk membangun tata kelola yang jelas, termasuk penanggung jawab operasional, jadwal pemeliharaan, alur pengumpulan sampah, pencatatan hasil pemilahan, dan mekanisme evaluasi.
Keberlanjutan program membutuhkan rencana setelah pendampingan, seperti penunjukan operator, penyediaan panduan penggunaan, pencatatan kinerja alat, serta kesepakatan mengenai pengelolaan hasil pilah. Dengan tata kelola yang jelas, teknologi dan pengetahuan yang diperkenalkan berpeluang memberi manfaat lebih panjang bagi masyarakat.
Menuju Ekosistem Ekonomi Hijau di Parangtritis
Melalui program bertajuk “Membangun Ekosistem Ekonomi Hijau Melalui Komunikasi Risiko: Implementasi Robot Pemilah Sampah Guna Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Parangtritis Bantul”, tim UNJAYA dan UAD mendorong pendekatan yang menyatukan teknologi, pengetahuan, dan partisipasi masyarakat. Fokusnya bukan semata-mata pada penggunaan robot, melainkan pada pembentukan kebiasaan memilah sampah, peningkatan pemahaman risiko, dan penciptaan peluang pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
Ke depan, hasil program perlu terus ditinjau melalui bukti pelaksanaan dan indikator yang dapat diukur, seperti jumlah warga yang terlibat, kemampuan operator, volume serta jenis sampah yang berhasil dipilah, pemanfaatan hasil pengolahan, dan keberlangsungan penggunaan teknologi. Pengukuran tersebut akan membantu tim dan masyarakat mengetahui capaian, mengidentifikasi kendala, serta menentukan perbaikan yang diperlukan.
Melalui sinergi perguruan tinggi dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat praktik pengelolaan sampah yang lebih tertata, mendorong pertanian yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, serta membuka ruang tumbuhnya inisiatif ekonomi hijau berbasis potensi lokal di Parangtritis, Bantul.
Tentang Program Kosabangsa
Program Kosabangsa merupakan program kolaborasi perguruan tinggi yang mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk membantu menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam kegiatan di Parangtritis, program berfokus pada implementasi robot pemilah sampah, komunikasi risiko, dan dukungan terhadap pertanian berkelanjutan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi hijau. (doc/dnd)
