Estetika Al-Qur’an sebagai Nutrisi Jiwa

Ceramah Tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)
Program Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menghadirkan ceramah tarawih pada Jumat, 6 Maret 2026. Ceramah tersebut disampaikan oleh H. Hendra Darmawan, S.Pd., M.A. dari Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tema “Estetika Bahasa Al-Qur’an: Menyelami Keindahan Sastra Wahyu sebagai Nutrisi Jiwa.”
Dalam ceramahnya, Hendra Darmawan mengajak jemaah untuk memahami Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab suci yang dibaca, tetapi juga sebagai sumber keindahan bahasa dan nutrisi spiritual bagi jiwa manusia. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kedalaman makna yang terus terbuka bagi siapa pun yang membacanya dengan kesungguhan. “Al-Qur’an itu seperti mutiara. Jika engkau baca sekali, engkau akan mendapatkan satu makna. Jika engkau baca dua kali atau tiga kali, engkau akan menemukan makna yang baru. Semakin sering dibaca, semakin banyak pemaknaan yang akan kita temukan,” ujarnya, mengutip pandangan Syekh Muhammad Abdullah Darraz.
Ia juga mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Fussilat yang menjelaskan bahwa Allah akan terus menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta dan dalam diri manusia. “Allah berfirman, ‘Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.’ Artinya, Allah terus-menerus menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya, tinggal bagaimana manusia meresponsnya,” jelasnya.
Menurut Hendra, memahami ayat-ayat Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan pendekatan intelektual atau kognitif semata. Diperlukan pula kehalusan rasa dan kedalaman spiritual agar pesan Al-Qur’an benar-benar dapat dihayati. “Dalam memahami ayat-ayat Allah tidak cukup hanya dengan kerangka kognitif ilmiah saja, tetapi juga membutuhkan kehalusan rasa atau azzauq, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa penghayatan terhadap Al-Qur’an seharusnya melahirkan sikap reflektif dalam diri seorang muslim. Ketika membaca ayat-ayat Allah, seseorang tidak hanya sekadar memahami teks, tetapi juga merenungkan apakah pesan tersebut telah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Ketika kita membaca Al-Qur’an, kita seharusnya bertanya pada diri sendiri, apakah ayat ini sudah kita amalkan atau belum? Dari situlah muncul kerinduan untuk benar-benar menjalankan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan,” ungkapnya.
Dalam ceramah tersebut, Hendra juga menyinggung kisah sejarah dalam Surah At-Taubah tentang Perang Hunain. Ia menjelaskan bahwa kemenangan umat Islam tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah yang besar, melainkan oleh pertolongan Allah Swt. “Pada saat Perang Hunain jumlah umat Islam sangat besar, tetapi Allah mengingatkan bahwa kemenangan bukan karena jumlah, melainkan karena pertolongan-Nya. Ini menjadi pelajaran penting bahwa kekuatan sejati seorang mukmin terletak pada ketergantungannya kepada Allah,” jelasnya.
Di akhir ceramah, Hendra mengajak jamaah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai nutrisi jiwa yang mampu menumbuhkan kesadaran spiritual, memperkuat keimanan, serta membimbing manusia kembali kepada Allah Swt. “Kita semua menyadari bahwa manusia tidak luput dari dosa dan kekhilafan. Karena itu, bulan Ramadan menjadi momentum untuk kembali kepada Allah, memohon ampunan-Nya, dan memperbaiki diri sebelum datang waktu ketika manusia tidak lagi memiliki kesempatan,” pesannya. (Mawar)
