Inovasi Riset Dosen UAD Tampilkan Deterjen Ramah Lingkungan di Ajang Ecothon ASEAN

Tim peneliti dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Tim Riset FTI UAD)
Tim peneliti dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) siap membuktikan potensi komersial hasil riset mereka dalam ajang Ecothon Alumni Global Acceleration Program yang diselenggarakan oleh ASEM SMEs Eco Innovation Center (ASEIC) bersama Hanns-Seidel Foundation (HSF) pada 8-11 Desember 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Pada ajang bergengsi tingkat Asia Tenggara tersebut, LESIK terpilih sebagai salah satu dari lima startup yang mewakili Indonesia dan masuk dalam 15 startup terbaik se-Asia Tenggara. Inovasi yang dipresentasikan merupakan hasil riset dosen lintas program studi di FTI UAD yang diketuai oleh Ir. Hayati Mukti Asih, S.T., M.Sc., Ph.D., bersama Ir. Rachma Tia Evitasari, S.T., M.Eng., Tatbita Titin Suhariyanto, S.T., M.Sc., serta Ir. Muhammad Faishal, S.T., M.Eng., Ph.D.
LESIK merupakan deterjen biodegradable berbasis biosurfaktan alami dari buah lerak (Sapindus rarak) yang kaya akan saponin. Formula ini menjadikan LESIK bersifat hipoalergenik, aman bagi kulit sensitif, sekaligus memiliki daya bersih tinggi. Tidak hanya berfokus pada fungsi pembersih, produk ini juga menawarkan solusi konkret terhadap persoalan lingkungan, khususnya pencemaran air limbah domestik (greywater).
Berbeda dengan deterjen konvensional yang kerap meninggalkan residu persisten, LESIK dirancang 100% mudah terurai, bebas fosfat, serta telah dilindungi melalui Paten Sederhana. Kualitas produk ini juga telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) melalui pengujian di laboratorium tersertifikasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan memiliki izin edar. Inovasi tersebut menjadi wujud nyata komitmen tim peneliti UAD terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Keikutsertaan tim dosen UAD dalam Ecothon tidak sekadar untuk pameran inovasi, melainkan membuktikan kesiapan bisnis (investor readiness) dari produk LESIK. “Inovasi ini adalah jembatan antara laboratorium dan pasar,” ujar Ir. Hayati Mukti Asih, S.T., M.Sc., Ph.D.
Ia menegaskan bahwa riset akademik memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi bisnis yang berdampak luas. “Kami ingin menunjukkan bahwa riset kampus dapat melahirkan usaha yang skalabel, memberikan dampak sosial, sekaligus merevitalisasi kearifan lokal Indonesia menuju industri masa depan yang zero waste,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tim saat ini tengah mencari dukungan pendanaan untuk sertifikasi skala industri dan peningkatan kapasitas produksi agar LESIK dapat bersaing dan mendominasi pasar deterjen ramah lingkungan. Melalui pencapaian ini, tim peneliti berharap peran perguruan tinggi semakin diakui sebagai sumber utama lahirnya solusi inovatif bagi tantangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (Hay)
