Keistimewaan Nuzululqur’an

Tablig Akbar memperingati Nuzululqur’an di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ito)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Tablig Akbar dalam rangka memperingati Nuzululqur’an pada Senin, 17 Ramadan 1446 H atau bertepatan dengan 17 Maret 2025 M. Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan Syekh Dr. Ahmed Abdel Halim Khattab, anggota Lembaga Fatwa Mesir Dar El-Ifta, sebagai pemateri utama.
Dalam tausiahnya, Syekh Ahmed Abdel Halim Khattab menjelaskan makna turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Ia mengulas bahwa bulan Ramadan menjadi bulan istimewa karena di dalamnya terdapat peristiwa Nuzululqur’an, sebagaimana Allah firmankan dalam Surah Al-Baqarah dan Surah Al-Qadr. Malam turunnya Al-Qur’an, yaitu lailatulkadar, disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk memanfaatkan Ramadan dengan sebaik-baiknya, terutama di sepuluh malam terakhir untuk meraih keberkahan malam lailatulkadar. Ia juga mengingatkan bahwa tanda-tanda lailatulkadar tidak disebutkan secara gamblang dalam Al-Qur’an, tetapi ada beberapa ciri yang bisa dikenali.
“Pada malam itu, cuaca cenderung sejuk, tidak terlalu panas maupun dingin, serta cahaya bulan tampak lebih redup dari biasanya. Selain itu, suasana terasa lebih tenang, ayam lebih sering berkokok, dan suara anjing menggonggong lebih sedikit,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa salah satu tanda spiritual dari malam istimewa ini adalah hati yang terasa damai dan air mata yang mengalir dengan sendirinya saat beribadah. Selain membahas keutamaan lailatulkadar, Syekh Ahmed juga menyoroti pentingnya menjaga ibadah secara konsisten. Ia mengingatkan agar setelah Ramadan, umat Islam tetap melanjutkan kebiasaan ibadah dengan bertahap, tidak langsung membebani diri dengan amalan berat.
“Jangan memaksakan diri langsung melakukan banyak ibadah hingga akhirnya merasa lelah dan meninggalkannya. Mulailah dari yang ringan, seperti puasa Senin dulu, lalu bertahap ke ibadah lainnya. Begitu pula dengan salat tahajud, cukup dua rakaat terlebih dahulu hingga nanti tumbuh sendiri kecintaan kita kepada ibadah,” ujarnya.
Menutup tausiahnya, Syekh Ahmed berpesan agar umat Islam senantiasa menghidupkan Ramadan dengan amalan yang penuh makna, termasuk memperbanyak doa. Ia menganjurkan tiga doa utama yang perlu dilazimkan di sepuluh malam terakhir, yaitu doa meminta kemudahan dalam berzikir dan beribadah, doa memohon kebaikan dunia dan akhirat, serta doa agar diampuni oleh Allah. Acara kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab dan doa bersama, dengan harapan semoga seluruh jamaah mendapatkan keberkahan Ramadan dan kesempatan untuk meraih lailatulkadar. (Ito)