Ketua LLHPB ’Aisyiyah Bahas Pendidikan Ekologis dalam Keluarga Berkemajuan

Rahmawati Husein pemateri Pengajian Ramadan 1447 PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Materi keempat Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang bertempat di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 8 Maret 2026 disampaikan oleh Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ’Aisyiyah, Rahmawati Husein, MCP., Ph.D., dimoderatori oleh Fitria Sari Yunianti, S.S., M.Hum., dengan mengangkat tema “Merawat Bumi dari Rumah: Pendidikan Ekologis dalam Keluarga Berkemajuan”.
Pemateri menyoroti berbagai kerusakan ekologis di Indonesia seperti deforestasi, degradasi tanah, dan pencemaran lingkungan. Ia menjelaskan bahwa sebelum tahun 2024, kerusakan hutan dan lahan mencapai sekitar satu juta hektare per tahun yang umumnya disebabkan oleh pembakaran hutan dan penebangan liar.
Selain itu kerusakan ekosistem pesisir juga menjadi perhatian, termasuk hilangnya mangrove dan bakau di wilayah Pantai Selatan Yogyakarta serta rusaknya terumbu karang yang berperan penting sebagai tempat tumbuhnya ekosistem pesisir. Kerusakan terumbu karang tersebut dapat memicu abrasi pantai yang semakin memperparah kondisi lingkungan.
Pemateri menegaskan bahwa menjaga kelestarian bumi merupakan bagian dari nilai keagamaan yang didasari oleh ajaran Islam, seperti dalam QS. Al-A’raf ayat 56 yang melarang perusakan di bumi dan QS. Al-Baqarah ayat 205 yang menegaskan bahwa Allah tidak menyukai kerusakan.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai tempat pertama dalam menanamkan nilai kepedulian lingkungan “Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak untuk belajar nilai dan kebiasaan, termasuk membangun gaya hidup ramah lingkungan seperti mengurangi sampah, hemat energi, dan tidak membuang makanan,” jelasnya.
Selain itu, pemateri juga mengajak masyarakat membangun kebiasaan ramah lingkungan di rumah, seperti memasak secukupnya, tidak membuang makanan, membuang sampah pada tempatnya, dan menghemat energi listrik.
Hal ini penting mengingat data menunjukkan bahwa sebagian besar timbulan sampah di Indonesia berasal dari rumah tangga berupa sisa makanan, sementara di Indonesia juga menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Ia menambahkan bahwa berbagai upaya inovatif juga dapat dilakukan, seperti penggunaan panel surya. (Juni)
