Mahasiswa Internasional UAD Bersinergi Wujudkan SDGs 2030

Webinar mahasiswa internasional Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Anove)
Ruang virtual menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemimpin muda dari berbagai belahan dunia pada Senin, 30 Maret 2026. Melalui siaran langsung di saluran YouTube Bimawa UAD Jogja, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sukses menyelenggarakan International Student Webinar bertajuk “United Youth in Action: Delivering SDGs Based Solutions to Global Challenges”.
Bukan sekadar diskusi akademik biasa, forum ini menjadi panggung bagi sembilan mahasiswa pembicara dari India, Brasil, Pakistan, El Salvador, dan lima mahasiswa andalan UAD Indonesia. Mereka membawa misi besar: membuktikan bahwa pemuda bukan lagi sekadar pemimpin masa depan, melainkan penggerak perubahan di masa sekarang melalui aksi nyata yang selaras dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Inovasi Hijau: Dari Bioma Caatinga hingga Rantai Pasok
Salah satu sorotan utama datang dari Raissa Alves, mahasiswa asal Brasil. Terinspirasi dari bioma Caatinga di negaranya yang gersang dan sering dilanda kekeringan ekstrem, Haisa memperkenalkan prototipe perangkat lunak bernama Routine.
“Keluarga saya merasakan langsung dampak beban panas (heat stress) di bioma tersebut,” ungkap Raissa. Aplikasi ini dirancang untuk membantu masyarakat memitigasi suhu tinggi di perkotaan melalui implementasi ruang hijau dan kebun vertikal. Sebuah solusi digital cerdas untuk adaptasi iklim yang lahir dari keresahan personal.
Dari sisi industri, Muhammad Talha asal Pakistan membawa perspektif berbeda. Baginya, menyelamatkan bumi bisa dimulai dari manajemen rantai pasok yang efisien. Dengan menerapkan metodologi profesional seperti Lean Six Sigma, Talha menunjukkan bagaimana perbaikan kecil dalam operasional harian dapat mengurangi dampak lingkungan secara signifikan. “Inovasi tidak selalu berarti menciptakan hal baru, tetapi membuat sistem yang ada menjadi lebih pintar dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kemanusiaan dan Kesetaraan: Mengedukasi Hati
Isu sosial juga mendapat porsi mendalam dalam diskusi ini. Christian Alejandro Cuadra dari El Salvador melalui proyek Euphonia menekankan pentingnya kesetaraan gender (SDG 5). Ia berargumen bahwa untuk menghapus diskriminasi, dunia perlu mengedukasi pikiran dan hati guna meruntuhkan stigma peran gender yang telah lama ternormalisasi.
Senada dengan itu, Dimas Ananda, mahasiswa UAD, memberikan perspektif menyentuh tentang inklusi disabilitas. Ia mengajak dunia untuk berhenti berfokus pada keterbatasan dan mulai melihat kemampuan untuk mewujudkan inklusi yang sesungguhnya. Sementara itu, Analta Gibransyah menyoroti hak legal dan akses keadilan sebagai fondasi utama yang harus dikawal oleh kaum muda.
Aksi Nyata: Melawan Stunting dan Limbah Tekstil
Di sektor kesehatan, Faiza Fatih memaparkan peran krusial mahasiswa dalam memerangi stunting di Indonesia. Faiza menekankan bahwa edukasi gizi bisa dilakukan melalui langkah praktis di lapangan.
“Mahasiswa bisa terjun langsung lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau organisasi kampus untuk mengadakan demo masak sehat menggunakan bahan lokal yang terjangkau seperti telur, lele, atau ayam,” jelas Faiza. Ia juga mendorong inisiasi urban farming atau budi daya pangan mandiri sebagai sumber protein keluarga sekaligus memantau data pertumbuhan anak secara digital.
Selain kesehatan, webinar ini juga menyoroti ancaman limbah tekstil yang diprediksi mencapai angka fantastis, yakni 100 juta ton. Solusi yang ditawarkan melibatkan pengelolaan limbah berbasis Internet of Things (IoT) dan model circular fashion, di mana perubahan dimulai dari pilihan konsumsi pribadi yang lebih sadar lingkungan.
Membangun Konektivitas Tanpa Batas
Menutup rangkaian solusi, Rashi Kaushik dari India memperkenalkan Vivovers, sebuah platform pembelajaran bahasa gratis berbasis komunitas. Rashi percaya bahwa konektivitas global dan pencapaian SDGs pada 2030 tidak akan tercapai selama hambatan komunikasi masih ada. Melalui bahasa, ia merajut jejaring pemuda dunia untuk saling berkolaborasi lintas budaya.
Pertemuan internasional ini mengirimkan pesan kuat, yakni tantangan global yang kompleks dapat diurai melalui aksi lokal yang konsisten. Para pembicara sepakat bahwa kunci perubahan terletak pada kolaborasi lintas disiplin dan keberanian pemuda untuk mengambil tanggung jawab sebagai pelaku perubahan hari ini, bukan esok hari.
Ajang ini menjadi bukti nyata upaya UAD dalam mendorong mahasiswa menjadi pemecah masalah di kancah dunia. Dengan menghadirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung, mahasiswa UAD bersama rekan-rekan globalnya menunjukkan bahwa di tangan pemuda yang peduli, masa depan yang berkelanjutan bukan sekadar mimpi, melainkan target yang sedang diperjuangkan. (Anove)
