Pentingnya Memperhatikan Kesehatan Mental Guru Wali

Sarasehan kebijakan pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) soroti kesehatan mental guru wali (Foto. Septi)
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Sarasehan Kebijakan Pendidikan bertajuk “Guru Wali dan Penguatan Kompetensi Bimbingan Konseling di Sekolah” pada Selasa, 31 Maret 2026, bertempat di Amphitarium Kampus IV UAD.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Dody Hartanto, S.Pd., M.Pd., selaku Guru Besar Bimbingan dan Konseling UAD, memaparkan materi krusial mengenai urgensi peran guru wali dalam menjaga ekosistem sekolah yang sehat.
Mengawali paparannya, Prof. Dody menyajikan data keprihatinan terkait kondisi pendidik di kancah internasional. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2021 di Jepang, terdapat sekitar 12.000 guru yang mengundurkan diri akibat permasalahan kesehatan mental. Fenomena serupa juga terjadi di Inggris dan daratan Eropa; tercatat sekitar 5.000 guru mengajukan pensiun dini dalam satu tahun dengan alasan yang sama.
“Siswa bahagia hanya datang dari guru yang bahagia,” ujar Prof. Dody. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konsep guru wali kelas idealnya mencakup tiga aspek utama, yakni peran sebagai wali administratif, wali pedagogis, dan wali konselor.
Selain memperhatikan kondisi pendidik, Prof. Dody juga menyoroti tantangan kesehatan mental generasi Z dan Alfa. Berdasarkan data yang dipaparkannya, satu dari tiga remaja saat ini terindikasi memiliki permasalahan kesehatan mental. Oleh karena itu, ia menawarkan strategi implementasi terstruktur di lingkungan sekolah yang meliputi fase pelatihan asesmen, pendampingan (mentoring) oleh guru wali senior, hingga evaluasi berbasis data performa.
“Guru wali yang kompeten adalah investasi terbaik bangsa. Ia bukan hanya mengajar, tetapi juga hadir, peduli, dan menjadi titik cahaya bagi setiap anak yang sedang tumbuh,” tambahnya memungkasi materi. (Septia)
