Songsong Ramadan dengan Ibadah Berdampak

Dr. Syakir Jamaluddin, S.Ag., M.A. pemateri pengajian FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), kembali menggelar Pengajian Bulanan Dosen dan Tendik #33 mengangkat tema “Fikih Ibadah di Bulan Ramadan” dengan menghadirkan Dr. Syakir Jamaluddin, S.Ag., M.A. sebagai penceramah.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa menyambut Ramadan tidak cukup hanya dengan tradisi seremonial, tetapi harus disertai pembekalan ilmu agar ibadah semakin bermakna. “Pengajian harus menggerakkan amal dan ibadah kita. Kalau tidak menggerakkan, ya tidak bisa,” tegasnya. Menurutnya, eksistensi sebuah gerakan akan langgeng jika mampu menunjukkan kebenaran sekaligus manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia juga mencontohkan gerakan “Kopi Ngaji” yang awalnya merupakan pengabdian masyarakat berbasis penguatan ekonomi, kini berkembang hingga ratusan jemaah. Tidak hanya menghadirkan kajian keislaman, program tersebut juga membuka ruang kolaborasi bisnis, koperasi, hingga penguatan jejaring digital. Bahkan, ia menyebut pengajian harus solutif terhadap persoalan umat, termasuk persoalan jodoh dan keluarga. “Jangan hanya dari sekadar ngaji ke ngaji tapi tidak ada solusinya, tidak ada gerakannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Syakir mengingatkan pentingnya meluruskan niat dan pemahaman dalam menyongsong Ramadan. Ia menyoroti sejumlah tradisi yang berkembang di masyarakat, seperti salat atau puasa tertentu yang didasarkan pada hadis lemah bahkan palsu. Ia menegaskan bahwa motivasi beribadah tidak boleh dibangun di atas dalil yang tidak sahih. “Bukan masanya lagi kita berlindung di balik ketidaktahuan. Sekarang bisa ngaji, bisa searching,” katanya. Ia juga menjelaskan bahwa doa yang baik tetap boleh diamalkan selama tidak disandarkan secara keliru kepada Nabi Muhammad saw.
Selain itu, ia menekankan bahwa ibadah harus berdampak sosial. Puasa, menurutnya, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi harus melahirkan amal saleh dan meninggalkan keburukan. Ia mengingatkan agar menjelang Ramadan umat Islam melunasi utang puasa, memperbanyak sedekah, serta memperbaiki hubungan sosial tanpa harus terjebak pada ritual yang tidak memiliki dasar kuat. Tradisi seperti ziarah kubur tetap diperbolehkan sebagai sunah, namun bukan sebagai ritual khusus penyambutan Ramadan.
Dr. Syakir juga mengajak peserta menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri dan gerakan. Ia mencontohkan bagaimana fikih tidak berhenti pada teks, tetapi melahirkan solusi, termasuk dalam persoalan perempuan hamil dan menyusui yang memiliki keringanan syariat. Baginya, Islam adalah agama yang memudahkan sekaligus mencerahkan. Dengan bekal ilmu yang benar dan semangat amal yang nyata, Ramadan diharapkan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang pembuktian ketakwaan yang berdampak luas bagi diri dan masyarakat. (Mawar)
