Mahasiswa UAD Terpilih Jadi Google Student Ambassador 2026

Dio Lutvi Andre mahasiswa Sistem Informasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026 (Foto. Itoshiko)
Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dio Lutvi Andre, berhasil mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Ia resmi terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026 setelah melewati rangkaian seleksi ketat yang diselenggarakan oleh Google Indonesia.
Pencapaian ini diumumkan pada 1 April 2026, setelah proses pendaftaran yang dimulai sejak pertengahan Maret. Terpilihnya Dio menjadi catatan luar biasa mengingat ketatnya persaingan dalam program ini. Tercatat, sebanyak lebih dari 81.000 pendaftar dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia turut berpartisipasi, dengan tingkat kelulusan yang sangat selektif, yakni hanya sekitar 2,4 persen.
GSA merupakan program dari Google Indonesia yang dirancang untuk menjembatani dunia akademik dengan teknologi. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa terpilih untuk menjadi duta teknologi di lingkungan kampusnya masing-masing.
Dio mengaku sangat bersyukur atas keberhasilan ini. “Jujur, pencapaian ini rasanya luar biasa. Bersaing dengan puluhan ribu pendaftar adalah perjalanan yang luar biasa, dan ini sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa UAD memiliki kualitas yang mampu bersaing di level nasional,” ungkapnya.
Dalam persiapannya, Dio menghabiskan waktu sekitar dua hingga empat minggu untuk menyusun strategi. Hal ini meliputi pemetaan masalah yang relevan, riset mendalam, hingga optimalisasi portofolio dan media sosial sebagai bahan penilaian utama. Meski sempat merasa tegang saat menunggu hasil pengumuman, Dio berhasil membuktikan dedikasinya melalui proses seleksi administrasi dan kualifikasi yang panjang.
Motivasi utama Dio mengikuti program ini adalah untuk membawa dampak positif bagi sesama mahasiswa. Ia berharap kedepannya dapat membantu memecahkan permasalahan mahasiswa melalui pemanfaatan berbagai perangkat (tools) teknologi dari Google.
“Saya ingin menegaskan bahwa teknologi itu bersifat inklusif dan bisa digunakan oleh mahasiswa dari lintas program studi, tidak terbatas hanya untuk anak IT saja,” pungkasnya. (ito)
