Remote Physics Laboratory: Menghadirkan Sains ke Pelosok Negeri

Prof. Dr. Ishafit, M.Si. Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) resmi mengukuhkan Prof. Dr. Ishafit, M.Si. sebagai Guru Besar dalam Sidang Terbuka Senat di Amphitarium Kampus IV pada Sabtu, 25 April 2026. Bagi Prof. Ishafit, UAD merupakan rumah sejarah yang sangat personal karena ia tercatat sebagai mahasiswa angkatan pertama Pendidikan Fisika pada tahun 1985 saat kampus ini masih bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Yogyakarta. Visi Ishafit terhadap teknologi pendidikan bahkan telah melampaui zamannya sejak tahun 1987, di mana ia sudah mempresentasikan karya ilmiah mengenai penerapan komputer untuk pembelajaran fisika di saat akses terhadap teknologi tersebut masih sangat langka.
“Kenapa kita harus mengembangkan Remote Physics Laboratory? Karena Remote Physics Laboratory ini berangkat dari landasan filosofis tentang kajian fisika, yaitu aspek tinjauan ontologis atau epistimologis,” ucapnya. Secara filosofis, Prof. Ishafit membedah bahwa pengembangan Remote Physics Laboratory (R-Phylab) berangkat dari tinjauan ontologis dan epistemologis terhadap fisika. Secara ontologis, fisika dipahami sebagai ilmu yang mengkaji hakikat realitas alam semesta berupa materi, energi, ruang, waktu, serta interaksinya. Sementara secara epistemologis, fisika merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah sistematis yang menggabungkan observasi, eksperimen, dan pemodelan matematika yang bersifat tentatif serta terbuka untuk dikoreksi.
“Pada salah satu diagram, yang dilakukan adalah melakukan eksperimen untuk melakukan pembuktian pengambilan data dan analisis, apakah prediksi yang kita gunakan, usulkan, itu terbukti atau tidak, maka muncullah eksperimen yang membutuhkan perangkat, yaitu laboratorium yang disediakan,” ujarnya. “Di era digital, laboratorium berkembang tidak lagi tradisional. Yang biasanya peserta didik atau mahasiswa datang ke lab untuk melakukan eksperimen secara langsung, tapi sekarang ada Remote Physics Laboratory, di mana peralatan yang sama, yang real atau nyata, tetapi bisa dikendalikan dengan jarak jauh.” Tutupnya.
Beliau menekankan bahwa eksperimen membutuhkan perangkat laboratorium yang memadai, namun di era digital, laboratorium tradisional kini bertransformasi menjadi laboratorium jarak jauh. Melalui R-Phylab, peralatan yang nyata dapat dikendalikan dari mana saja untuk mengatasi keterbatasan fasilitas, biaya operasional yang tinggi, serta disparitas akses yang selama ini dialami oleh institusi di wilayah pedesaan. Laboratorium jarak jauh memberikan pengalaman belajar setara laboratorium tradisional dalam pemahaman konsep dan keterampilan ilmiah. Di samping itu, adanya R-Phylab juga bertujuan untuk mengurangi kebutuhan sumber daya fisik dan konsumsi energi, selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Inovasi R-Phylab yang dikembangkan di program studi Pendidikan Fisika UAD ini mencakup experimental apparatus (perangkat eksperimen), sistem akuisisi data berbasis LabVIEW, server pengendali, hingga platform pembelajaran Moodle. Prof. Ishafit menjelaskan bahwa laboratorium jarak jauh ini bukan sekadar solusi teknis, melainkan wujud nyata dari upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDG) 4 tentang pendidikan berkualitas.
Melalui mekanisme demokratisasi akses, peningkatan kualitas eksplorasi tanpa batas waktu, serta keberlanjutan ekonomi dan lingkungan, R-Phylab hadir untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi abad ke-21 seperti literasi digital, pemecahan masalah, dan kolaborasi jarak jauh. Beliau menegaskan visinya dengan menyatakan bahwa dari UAD untuk Indonesia, menghadirkan laboratorium ke hadapan peserta didik Indonesia, serta dengan misi berbagi laboratorium untuk pemerataan akses dan mutu pendidikan sains Indonesia
Guna memastikan teknologi tersebut efektif, Prof. Ishafit juga memperkenalkan model integrasi Theoretical Experimental Computational Learning Approach (TECLA) dan inovasi Classroom Physics Experiment. Dengan pendekatan ini, demonstrasi eksperimen di kelas dapat dilakukan cukup dengan terkoneksi ke laboratorium jarak jauh tanpa harus menghadirkan peralatan fisik secara langsung.
“Keberhasilan keberadaan teknologi tidak serta merta meningkatkan proses pembelajaran menjadi berkualitas, maka perlu kita pertimbangkan juga bentuk interaksional seperti apa yang efektif untuk pembelajaran. Maka kami juga mengembangkan inovasi pembelajaran dengan R-Phylab, Classroom Physics Experiment, di mana eksperimen demonstrasi di kelas tidak harus menghadirkan peralatan cukup dengan melakukan koneksi terhadap remot laboratorium. Kemudian juga kita bisa melakukan model intregasi, model TEC, yaitu model teoretis, eksperimental, dan kompurasional,” jelasnya.
Menutup pidatonya, beliau menggarisbawahi bahwa pemanfaatan R-Phylab sangat relevan dengan konsep Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah. Integrasi antara iman, ilmu, dan teknologi ini merupakan upaya membangun peradaban Islam yang unggul sekaligus mewujudkan prinsip rahmatan lil ‘alamin. Bagi beliau, pemanfaatan teknologi ini adalah langkah tajdid atau pembaruan yang adaptif terhadap zaman demi memberikan manfaat pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. (Anove)
