Mahasiswa Teknik Industri UAD Raih Predikat Best Speaker dalam Debat Mahasiswa Nasional

Mahasiswa Prodi Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan (UAD) meraih best speaker dalam debat mahasiswa Nasional (Foto. Andika)
Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Muhamad Andika, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAD, berhasil meraih predikat Best Speaker atau pembicara terbaik ke-7 dalam ajang Debat Mahasiswa Lintas Nusantara Parlementer Asia Tingkat Nasional.
Kompetisi tersebut diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada 16-17 Mei 2026 oleh Argumentum bekerja sama dengan School of Economics and Finance ITB. Tim debat UAD diketuai oleh Wiga Sarah Putri dari Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023, dengan anggota Farid Bagaskara dari Program Studi Sastra Inggris angkatan 2024 dan Muhamad Andika dari Program Studi Teknik Industri angkatan 2024.
Andika mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian yang berhasil diraih. “Saya sangat bahagia bisa memperoleh predikat Best Speaker dalam ajang Debat Mahasiswa Lintas Nusantara Parlementer Asia tingkat nasional. Hal ini menjadi pencapaian luar biasa dan membanggakan bagi diri saya pribadi,” ujarnya.
Dalam mempersiapkan kompetisi, Andika secara konsisten mengasah kemampuan debat melalui latihan rutin bersama mahasiswa lintas universitas di Indonesia secara daring. Menurutnya, proses latihan yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan menyusun argumentasi dan mempertajam analisis terhadap mosi debat.
Ia menjelaskan bahwa strategi tim dalam membangun argumentasi dilakukan melalui kerja sama yang intensif antarpembicara. “Kami saling membantu menyusun argumentasi sesuai mosi yang diperoleh dan menyampaikannya berdasarkan urutan pembicara. Setelah itu, kami melakukan evaluasi terhadap poin-poin yang belum tersampaikan agar argumentasi yang dibangun semakin kuat dan jelas,” jelasnya.
Meski demikian, Andika mengaku terdapat berbagai tantangan selama perlombaan berlangsung, salah satunya memahami karakter dan perspektif dewan juri yang berbeda-beda dalam menafsirkan mosi debat. Selain itu, tim lawan juga kerap menggunakan argumentasi serupa sehingga peserta harus mampu mempertahankan klaim yang telah dibangun.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya terjadi pada ronde ketiga dengan mosi “Indonesia harus memprioritaskan ekspor budaya”. Dalam ronde tersebut, perdebatan berlangsung sangat dinamis karena masing-masing tim saling mempertahankan argumentasi yang diajukan. “Walaupun terdapat perbedaan pandangan dari juri, kami tetap bersemangat dan terus memberikan performa terbaik di setiap ronde,” katanya.
Andika berharap dapat terus meningkatkan kemampuan debat dan meraih prestasi yang lebih tinggi pada kompetisi berikutnya. Ia berpesan, “Semoga mahasiswa UAD semakin terbuka untuk mengembangkan kemampuan dalam menyampaikan argumentasi sekaligus belajar mendengarkan pendapat orang lain,” tuturnya. (Mawar)
