Kupas Peluang Green Jobs, BPSDM ESDM Ajak Fisikawan UAD Kawal Transisi Energi

Ezrom M. D. Tapparan, S.T., M.Sc. dari BPSDM Kementerian ESDM pemateri pleno Seminar Nasional Fisika (SNF) di Universitas Ahmad Dahlan (Foto. Septi)
Mengawal agenda transisi energi nasional bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan turut menuntut peran dan kontribusi riil dari kalangan akademisi sains. Hal ini ditekankan oleh perwakilan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian ESDM, Ezrom M. D. Tapparan, S.T., M.Sc., saat menjadi pemateri pleno dalam Seminar Nasional Fisika (SNF) 2026 di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Membawakan materi mengenai prospek ilmu fisika dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan konservasi energi, Ezrom memaparkan tantangan pencapaian target ketahanan energi nasional. Menurutnya, sifat intermiten atau ketidakstabilan daya dari sumber EBT, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sangat membutuhkan sentuhan para fisikawan untuk melakukan kajian simulasi kelistrikan.
“Pembangkit EBT yang memiliki intermitensi tinggi sangat memerlukan dukungan analisis dan simulasi jaringan dari ahlinya sebelum terjadi masalah di lapangan,” ungkap Ezrom.
Lebih lanjut, ia meyakini bahwa kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan akan mendesak perubahan sistem kelistrikan dari sentralisasi menjadi desentralisasi berbasis microgrid. Terlebih lagi, Ezrom memproyeksikan bahwa biaya investasi PLTS dalam waktu kurang dari 10 tahun ke depan akan mencapai titik impas dan menjadi lebih murah dibandingkan harga listrik konvensional saat ini.
Tren transisi ini secara otomatis akan membuka Green Jobs atau lapangan pekerjaan hijau berskala besar yang dapat diisi oleh para lulusan fisika. Mereka berpeluang terserap sebagai auditor energi, praktisi Perusahaan Jasa Energi (ESCO), hingga instalatur sistem PLTS atap di berbagai penjuru daerah.
“Di balik masa transisi ini, ada banyak lapangan kerja baru yang terbentuk. Kebutuhan akan tenaga ahli lokal yang mampu mengelola infrastruktur EBT di setiap daerah sangat dibutuhkan,” papar Ezrom.
Melalui wawasan yang dibagikan dalam forum ilmiah tingkat nasional ini, diharapkan para mahasiswa maupun lulusan program studi fisika dapat peka menangkap peluang emas karier di sektor kelestarian lingkungan. Sinergi berkelanjutan antara riset perguruan tinggi dan kebijakan pemerintah ini juga diharapkan mampu mengamankan pasokan energi nasional sekaligus mewujudkan masa depan transisi energi yang berkeadilan bagi masyarakat luas. (Septia)
