UAD Terjunkan 1.676 Mahasiswa KKN-PLP Periode 2026/2027

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terjunkan 1.676 mahasiswa KKN-PLP periode 20262027 (Foto. Humas UAD).jpg
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan Upacara Pelepasan Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 2026/2027 di Lapangan Kampus Utama UAD pada Jumat, 7 Agustus 2026. Pelaksanaan pelepasan gabungan ini menjadi kali kedua UAD menyatukan pelepasan program PLP dan KKN secara bersamaan dalam satu upacara resmi.
Sekretaris Tim Task Force KKN UAD, Jefree Fahana, S.T., M.Kom., menjelaskan bahwa terdapat tiga tujuan utama dari kolaborasi pelepasan ini. Pertama, untuk membangun branding dan citra positif UAD di masyarakat dengan menampilkan jumlah mahasiswa yang besar secara bersamaan. Kedua, skema ini memberikan efisiensi melalui rekognisi KKN bagi mahasiswa PLP.
“Di dalam pelaksanaan PLP ini, sebagian mahasiswa direkognisi di KKN. Mereka melaksanakan PLP di pagi harinya, lalu sore harinya melaksanakan KKN dengan sasaran sivitas sekolah. Pelaksanaan dua kegiatan sekaligus dalam satu waktu ini ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui,” ujar Jefree.
Selain itu, Jefree menegaskan bahwa tujuan ketiga dari kolaborasi ini adalah sebagai program percepatan bagi mahasiswa. Meskipun secara pembagian waktu pelaksanaan berbeda, mahasiswa yang mengikuti skema ini dapat langsung memperoleh 8 Satuan Kredit Semester (SKS) sekaligus, yaitu 4 SKS dari KKN dan 4 SKS dari PLP.
Pada periode 2026/2027 ini, UAD mencatat sebanyak 235 mahasiswa mengikuti KKN Alternatif di wilayah Yogyakarta, serta 1.441 mahasiswa terdaftar dalam KKN Reguler dan Rekognisi. Untuk KKN Reguler, sebaran lokasi meliputi kawasan Kebumen, Sentolo, Temon, Nglipar, Gedangsari, Turi, hingga Tirtoadi. Selain wilayah tersebut, UAD menerjunkan mahasiswa dalam berbagai program KKN tematik dan kemitraan berskala nasional hingga internasional, seperti KKN ADi di Muna Barat, KKN Anak Bangsa di Mbeliling Nusa Tenggara Timur, KKN Mas di Malang, KKN Internasional di Thailand, KKN Ekspedisi Dahlan Muda di Mentawai, serta KKN Tematik Sekolah di Kulon Progo dan Gunungkidul.
Salah satu inovasi baru yang diluncurkan pada semester ini adalah program KKN Tematik Sekolah. Berbeda dengan PLP, KKN Tematik Sekolah merupakan murni KKN yang menyasar penguatan sekolah dan mahasiswa tidak diperbolehkan mengajar, melainkan fokus pada penguatan perpustakaan, ekstrakurikuler, robotik, dan program pendukung lainnya.
“Ini memang piloting dalam rangka memberikan layanan kepada sekolah-sekolah yang memberikan sumbangsih besar kepada UAD untuk distribusi siswanya. Tentu ini kami piloting dan kami evaluasi efektivitas programnya, sementara untuk pelaksanaan KKN-nya terus kami bangun untuk memperbaiki,” jelas Jefree.
Ia menambahkan, harapannya penamaan atau branding UAD di sekolah-sekolah tersebut dapat terus terpatri dalam ingatan masyarakat melalui media seperti stiker, sehingga UAD menjadi top of mind.
Sementara itu, pada jalur KKN Rekognisi, UAD mengintegrasikan berbagai program seperti Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Dosen Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM), Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO), Program Meramu, serta PKM Racana Tepat Jogja. Khusus PKM Racana Tepat Jogja, program ini digagas berdasarkan amanah Wali Kota Yogyakarta untuk menyelesaikan kondisi yang ada di Yogyakarta melalui pedoman pengembangan berbasis lokal di masing-masing kelurahan atau kampung, seperti penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), wisata kuliner, dan sebagainya, tergantung kondisi kampung tersebut.
Jefree menegaskan bahwa Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAD berharap penerjunan KKN kali ini benar-benar memberikan dampak nyata.
“Harapan kami dari LPPM, KKN kali ini benar-benar berdampak. Berdampak baik bagi UAD untuk memperluas jangkauan pengabdiannya sehingga berdampak pada penambahan mahasiswa, maupun berdampak langsung pada masyarakat dalam peningkatan literasi, peningkatan ekonomi melalui pendampingan UMKM, sosial masyarakat, hingga dakwah Persyarikatan Muhammadiyah,” pungkasnya. (Anove)
