P2K UAD 2026 Dorong Budaya Pemilahan Sampah dan Green Campus

Salah satu tempat pembuangan sampah yang ada di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terus mendorong penerapan budaya ramah lingkungan dalam pelaksanaan Program Pengenalan Kampus (P2K) 2026. Salah satunya melalui pengelolaan sampah yang melibatkan Biro Sarana dan Prasarana (BSP) UAD bersama panitia serta mahasiswa baru. Upaya tersebut dilakukan mulai dari pengurangan penggunaan barang sekali pakai, pemilahan, hingga pengolahan sampah.
Kepala BSP UAD, Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN.Eng., menjelaskan bahwa pengelolaan lingkungan selama P2K pada dasarnya tetap mengacu pada rutinitas pengelolaan lingkungan kampus yang diperkuat melalui kolaborasi dengan panitia P2K. Menurutnya, peningkatan volume sampah selama kegiatan menjadi tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan. Salah satu upaya yang diterapkan ialah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan mewajibkan mahasiswa baru dan panitia membawa tumbler pribadi serta memanfaatkan water station yang tersedia di sejumlah titik kegiatan.
Selain itu, panitia P2K turut mendampingi mahasiswa baru dalam melakukan pemilahan sampah setelah makan. Setiap panitia fakultas juga diwajibkan mengikuti lomba inovasi pengelolaan sampah. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian P2K, tetapi juga diarahkan untuk membangun budaya pengelolaan sampah sekaligus mendorong setiap fakultas mengurangi timbulan sampah selama kegiatan berlangsung.
“Pada prinsipnya, pengelolaan lingkungan tetap mengacu pada rutinitas harian kampus yang diperkuat melalui kolaborasi antara BSP dan panitia P2K UAD. Peningkatan jumlah sampah selama P2K menjadi tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan,” jelasnya.
Berdasarkan data P2K tahun sebelumnya, sekitar 60 persen sampah yang dihasilkan berupa kertas dan duplex, sedangkan 40 persen lainnya terdiri atas sampah organik dan plastik. Adapun jumlah timbulan sampah P2K 2026 belum dapat dipastikan karena rangkaian kegiatan masih berlangsung. Sampah yang dihasilkan selama kegiatan tetap diarahkan untuk dikelola. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan residu plastik diolah menggunakan alat pirolisis.
Keterlibatan mahasiswa baru juga diperkuat melalui berbagai kegiatan yang mendorong kreativitas dalam pengelolaan sampah. Lomba inovasi, misalnya, memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya bernilai guna atau estetis dari sampah seperti kardus, duplex, dan kemasan. Selain itu, terdapat kampanye kreatif mengenai pemilahan sampah dan gaya hidup zero waste. Pembiasaan juga dilakukan melalui kegiatan clean-up bersama sebelum peserta meninggalkan lokasi kegiatan.
Pengelolaan lingkungan dalam P2K 2026 tidak hanya berfokus pada sampah. Mahasiswa baru juga dikenalkan dengan budaya kelestarian lingkungan di lingkungan UAD, termasuk efisiensi energi dan pelestarian ruang hijau. Pembiasaan hemat energi dilakukan melalui pemanfaatan sirkulasi udara alami pada pagi hari serta penggunaan pendingin ruangan secara bijak. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan ruang terbuka hijau dan hutan kampus yang perlu dijaga kebersihan dan kelestariannya.
Melalui P2K 2026, UAD berharap budaya green campus tidak berhenti setelah rangkaian orientasi selesai. Mahasiswa baru diharapkan mampu menerapkan kebiasaan memilah dan mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus. “Kami berharap P2K dapat mengenalkan budaya pengelolaan sampah dan green campus di UAD, sehingga mahasiswa dapat berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan serta membantu mengendalikan dan menata pemilahan sampah selama kegiatan,” pungkasnya. (Mawar)
