Runtuhkan Sekat Pembatas, Dekan FKIP UAD Tekankan Kolaborasi Pendidikan yang Berdampak

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. (Foto. Humas UAD)
Menuntut ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi bukan sekadar rutinitas mengejar gelar. Pesan itulah yang ditekankan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. dalam agenda Good Talk Off Air di Museum Muhammadiyah Kampus IV UAD, Kamis, 24 September 2026. Ia menegaskan bahwa esensi sejati dari belajar adalah kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat (problem solving).
Namun dalam kenyataannya, apa yang dipelajari di kampus sering kali belum terhubung dengan kebutuhan warga di lapangan. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa yang berulang dari tahun ke tahun menjadi salah satu bukti bahwa banyak persoalan mendasar di desa belum terselesaikan secara berkelanjutan.
“Berapa puluh tahun mahasiswa datang silih berganti KKN di sebuah desa, tetapi masalah sampah dan problem mendasar di kampung itu nyatanya tidak pernah benar-benar tuntas. Di satu sisi, riset akademisi sering kali hanya berhenti di atas kertas tanpa menyentuh persoalan riil masyarakat,” ungkapnya.
Ia melihat pangkal masalahnya terletak pada kebiasaan kerja yang masih terkotak-kotak dan berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah berjalan dengan programnya sendiri, kampus sibuk dengan target akademiknya, dan masyarakat bergelut sendirian dengan problem hariannya. Ibarat deretan tiang kabel di pinggir jalan yang saling tumpang tindih tanpa keterpaduan, semua pihak berjalan masing-masing tanpa menyambung ke titik temu yang sama.
Dari kegelisahan itulah, Sayuti menawarkan arah gerak baru melalui tiga pilar kolaborasi konkret. Pertama, menyatukan langkah kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam program multitahun yang berbasis pada misi riil daerah. Kedua, membangun relasi kampus dan industri yang bermakna, bukan sekadar penandatanganan lembaran MoU atau magang formalitas, melainkan perancangan kurikulum bersama yang selaras dengan kebutuhan zaman. Ketiga, meruntuhkan tembok pembatas antarkampus agar perguruan tinggi bisa duduk bersama, saling berjejaring, dan menggagas aksi nyata kolektif seperti KKN bersama demi menyelesaikan persoalan publik.
Di tengah dinamika kebijakan yang kerap berubah, Sayuti menaruh harapan besar di pundak generasi muda untuk berani memutus mata rantai budaya jalan sendiri-sendiri tersebut. Baginya, transformasi pendidikan tidak bisa ditunggu dari atas, melainkan harus dimulai dari fondasi yang paling mendasar, yakni membangun budaya mutu dan menjunjung tinggi kehormatan ilmu pengetahuan.
“Kunci terpenting yang perlu kita bawa pulang adalah prinsip 3M: mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini. Bekali anak-anak kita dengan kecakapan learning to learn, kemampuan untuk terus belajar mandiri. Karena hanya dengan menghargai ilmu dan berkolaborasi secara konkret, peradaban bangsa ini dapat benar-benar melangkah maju,” pungkasnya. (Ito)
