Menanggapi Musibah dari Perspektif Islam

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mei)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Minggu, 18 Oktober 2026. Kajian ini mengangkat tema “Cara Muslim Menyikapi Bencana” dengan menghadirkan Ustaz Qaem Aulassyahied, S.Th.I., M.Ag. sebagai pemateri.
Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan setiap orang yang beriman dan memeluk Islam. Keimanan seseorang tidak hanya diukur melalui pengakuan lisan dan keyakinan hati, tetapi juga melalui amal perbuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
“Allah tidak akan mengukur keberimanan seseorang dari ikrarnya melalui lisan, melalui hati, tetapi Allah juga perlu pembuktian. Semakin beriman dan bertakwa seseorang, maka semakin besar peluang dia merasakan ujian yang lebih berat di hidup ini,” ujarnya.
Rasulullah saw. mengingatkan bahwa para nabi merupakan golongan yang mendapatkan ujian paling berat, kemudian orang-orang saleh setelahnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa kesulitan hidup tidak serta-merta menunjukkan lemahnya iman atau berkurangnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Ujian dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kesulitan ekonomi, kehilangan orang terkasih, penyakit, hingga bencana alam. Dalam menghadapi keadaan tersebut, umat Islam hendaknya menyikapi musibah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw., bukan dengan berputus asa atau menyalahkan orang yang terdampak.
Ustaz Qaem menjelaskan bahwa musibah yang menimpa orang beriman dapat memiliki beberapa fungsi. Pertama, musibah dapat menjadi teguran atas kesalahan yang dilakukan manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan laut dapat terjadi akibat perbuatan manusia. Melalui keadaan tersebut, manusia diharapkan melakukan introspeksi dan memperbaiki perilakunya.
Kedua, musibah dapat menjadi jalan penghapusan dosa. Beliau mengutip hadis riwayat Bukhari yang menjelaskan bahwa keletihan, kesedihan, penyakit, hingga gangguan sekecil apa pun yang menimpa seorang muslim dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian kesalahan.
Ketiga, musibah yang berujung pada kematian dapat menjadi jalan memperoleh kemuliaan di sisi Allah bagi orang-orang yang memenuhi kriteria syahid sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw.
“Bagaimana mungkin kita mengatakan orang yang orang beriman yang terkena musibah itu diazab oleh Allah. Padahal di dalam Alquran untuk umat Nabi Muhammad, musibah itu bisa jadi sebagai teguran, sebagai bentuk kasih sayang, musibah itu sebagai bentuk menghilangkan dosa, bahkan ada musibah sebagai bentuk mendapatkan surga,” katanya.
Oleh karena itu, Ustaz Qaem mengingatkan jemaah agar tidak mudah mengaitkan musibah yang dialami seseorang dengan dosa atau kemaksiatan. Setiap musibah memiliki hikmah yang tidak selalu dapat diketahui manusia. Sikap menghakimi justru dapat menambah beban bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Selain itu, umat Islam perlu membangun sikap husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah. Keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang menjadi landasan untuk tetap menjaga harapan, bersyukur atas nikmat yang masih dimiliki, serta bersabar ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan.
Beliau juga menekankan pentingnya saling menolong dalam menghadapi musibah. Menurutnya, tidak semua orang mampu menghadapi kesedihan dan kehilangan dengan kekuatan yang sama. Karena itu, dukungan dan kepedulian dari orang-orang di sekitarnya diperlukan agar mereka dapat bangkit dan melewati masa sulit.
Melalui kajian ini, jemaah diajak untuk memandang musibah sebagai kesempatan melakukan introspeksi, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Dengan menjaga prasangka baik kepada Allah, menguatkan kesabaran, serta mengedepankan semangat tolong-menolong, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. (Mei)
