Banjir dalam Perspektif Iman dan Manajemen Risiko

H. Budi Setiawan, S.T. pemateri pengajian Ramadan 1447 H PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Materi kedua dalam Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan H. Budi Setiawan, S.T., dengan tema “Bencana Bukan Takdir Semata: Membaca Banjir dalam Perspektif Manajemen Risiko dan Iman” pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Dalam pemaparannya, Budi Setiawan menegaskan bahwa bencana tidak semata-mata dipahami sebagai takdir, tetapi juga perlu dilihat melalui upaya ikhtiar manusia dalam mengelola risiko. Menurutnya, penguatan iman harus berjalan seiring dengan upaya nyata dalam mengurangi dampak bencana.
Ia mencontohkan bahwa tempat ibadah dapat memiliki peran strategis dalam situasi kebencanaan, seperti menjadikan masjid sebagai pusat evakuasi maupun pos koordinasi. Selain itu, proses pemulihan pascabencana juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan ibadah guna memperkuat ketahanan spiritual masyarakat.
“Penguatan iman harus sebanding dengan ikhtiar. Pemahaman agama yang baik akan meningkatkan kesadaran sekaligus ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa meningkatnya risiko banjir tidak terlepas dari kerusakan ekologis yang bersifat struktural. Beberapa faktor yang memicu kondisi tersebut antara lain deforestasi dan degradasi hutan, perubahan tata guna lahan, pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan, serta aktivitas penambangan yang tidak terkontrol.
Kerusakan tersebut berdampak pada menurunnya fungsi hutan sebagai penyerap air, meningkatnya erosi tanah, serta bertambahnya risiko banjir di berbagai wilayah. Kondisi ini pada akhirnya menimbulkan berbagai konsekuensi, mulai dari kerusakan lingkungan yang parah, kerugian ekonomi yang besar, hingga munculnya korban jiwa dan pengungsi.
Ia juga menegaskan bahwa risiko bencana ekologis cenderung meningkat apabila kerusakan lingkungan terus terjadi. “Risiko peningkatan bencana akan lebih tinggi lagi. Berbeda dengan gempa yang tidak merusak alam secara langsung,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Setiawan turut menjelaskan peran Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai unit pembantu pimpinan dalam penanganan kebencanaan di lingkungan Muhammadiyah. Lembaga ini berperan dalam berbagai aspek, mulai dari mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga penguatan jaringan kerja sama, pendidikan, dan pelatihan kebencanaan. MDMC juga memiliki tim medis darurat (Emergency Medical Team) yang siap diterjunkan dalam situasi bencana.
Ia menambahkan bahwa mitigasi merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko bencana, misalnya melalui pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan serta peningkatan kapasitas relawan kebencanaan di masyarakat.
Selain itu, setiap wilayah diharapkan memiliki rencana kontinjensi sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. Rencana kontinjensi merupakan prosedur terdokumentasi yang disusun sebelumnya untuk merespons ancaman tertentu secara efektif, dengan menetapkan peran, tanggung jawab, serta skenario tindakan yang jelas.
Konsep tersebut biasanya dirumuskan melalui pendekatan SIADIBIBA (Siapa, Di mana, Bilamana, Bagaimana, dan melakukan apa) agar respons terhadap bencana dapat berjalan lebih terarah dan terkoordinasi.
Di sisi lain, Budi Setiawan menekankan pentingnya respons bencana berbasis komunitas, yaitu upaya kolektif masyarakat dalam menghadapi dan mengurangi dampak bencana melalui perencanaan, persiapan, dan aksi bersama.
Ia menutup pemaparannya dengan mengingatkan bahwa manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam menjaga alam, tetapi juga dalam mengelola risiko bencana sejak tahap prabencana hingga pascabencana. (Dnd)
