Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan

Dr. Adib Sofia, M.Hum. pemateri Pengajian PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah (PWA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menyelenggarakan Pengajian Ramadan 1447 H pada Ahad, 8 Maret 2026, bertempat di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Pengajian ini dihadiri oleh sekitar 140 peserta, yang di antaranya terdiri atas perwakilan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-DIY dan jajaran PWA DIY. Materi ketiga dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ’Aisyiyah, Dr. Adib Sofia, M.Hum., dan dipandu oleh Dr. Sri Roviana, S.Ag., M.A. selaku moderator.
Materi bertema “Dakwah Perempuan Berkemajuan dalam Merespons Krisis Lingkungan” ini diawali dengan menyanyikan lagu Srengenge Nyunar. Dalam pemaparannya, Dr. Adib Sofia menekankan pentingnya dakwah yang bersifat transformatif dengan semangat minadz-dzulumati ilan-nur yang diambil dari Surah Al-Baqarah ayat 257, yakni mengajak masyarakat bergerak dari kegelapan menuju cahaya.
Ia menjelaskan bahwa metode dakwah yang dilakukan oleh ’Aisyiyah dan Muhammadiyah menggunakan pendekatan mubalighat yang lebih lembut, menyentuh hati, serta diwujudkan melalui aksi tablig. Menurutnya, pendekatan dakwah saat ini juga mengalami perubahan dari model instruksional dari atas ke bawah (top-down) yang bersifat pembinaan, menjadi pendekatan partisipatif melalui pemberdayaan masyarakat yang bersifat dari bawah ke atas (bottom-up) dan pelibatan komunitas (community engagement).
“Setiap komunitas memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga tidak ada magic formula dalam berdakwah. Karena itu, dakwah perlu dilakukan secara kolaboratif dan berbasis riset agar mampu menjawab persoalan lingkungan yang relevan dengan kondisi masyarakat,” ujar Dr. Adib Sofia.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa isu lingkungan perlu diposisikan sebagai isu keumatan dan keadilan sosial dalam dakwah. Oleh karena itu, diperlukan desain dakwah yang terencana, mulai dari penentuan kompetensi dan tujuan dakwah, perancangan konten yang merujuk pada berbagai referensi, hingga strategi penyampaian yang tepat. Selain itu, evaluasi juga penting dilakukan untuk mengetahui dampak dakwah sebelum dan sesudah pelaksanaan.
Dr. Adib turut menekankan pentingnya menyampaikan isu lingkungan dengan menampilkan fenomena berbasis data, argumentasi para pakar, landasan skriptural, serta keterkaitannya dengan persoalan keumatan. Pemaparan materi yang menginspirasi ini kemudian ditutup dengan kekompakan seluruh peserta Pengajian Ramadan dalam menyanyikan lagu Kudu Poso. (Juni)
