Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UAD Dorong Pencegahan Stunting Lewat Konseling Keluarga

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dorong pencegahan stunting lewat konseling keluarga (Foto. Prodamat UAD)
Menyadari pentingnya upaya pencegahan sejak dini, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan Program Pemberdayaan Umat (PRODAMAT) di Kelurahan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Program ini difokuskan pada peningkatan pengetahuan keluarga mengenai pencegahan stunting melalui kegiatan konseling keluarga (family counseling) serta edukasi gizi bagi ibu balita.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 23 Januari hingga 13 Februari 2026 di wilayah RW 10, Kelurahan Mantrijeron. Wilayah ini dipilih berdasarkan data dari pihak kelurahan dan puskesmas setempat yang menunjukkan angka kasus stunting lebih tinggi dibandingkan area lainnya. Oleh karena itu, intervensi yang terarah dan intensif dinilai sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran gizi masyarakat.
Seperti diketahui, stunting masih menjadi salah satu tantangan besar kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi akibat kekurangan gizi kronis ini tidak hanya membuat tinggi badan anak berada di bawah standar usianya, tetapi juga berisiko memicu gangguan perkembangan kognitif, penurunan daya tahan tubuh, hingga berkurangnya produktivitas di masa depan.
Dalam pelaksanaannya, program PRODAMAT ini melibatkan lima keluarga yang memiliki balita berisiko maupun yang telah terindikasi stunting. Melalui pendekatan kunjungan rumah, tim mahasiswa memberikan edukasi menyeluruh. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman dasar stunting, dampaknya terhadap tumbuh kembang anak, pentingnya ASI eksklusif, serta praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat.
Selain pemaparan materi, keluarga juga mendapatkan pendampingan langsung dalam pengolahan makanan tambahan bergizi bagi balita. Guna mengukur efektivitas program, para ibu balita diminta mengisi kuesioner sebelum dan sesudah sesi konseling. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan. Seluruh peserta yang awalnya memiliki pemahaman terbatas, kini menunjukkan tingkat literasi gizi yang jauh lebih baik terkait stunting.
Selain edukasi, kegiatan ini turut disertai dengan pembagian bahan makanan yang dapat digunakan sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita. Hal ini diharapkan dapat membantu keluarga dalam mempraktikkan langsung ilmu yang telah diperoleh selama konseling.
Program ini membuktikan bahwa pendekatan pemberdayaan keluarga melalui edukasi secara langsung menjadi langkah efektif dalam meningkatkan kesadaran pemenuhan gizi anak. Ke depan, upaya serupa diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan melalui sinergi antara masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah, dan institusi pendidikan demi mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas. (Septia)
