Mahasiswa UAD Kembangkan Potensi Bahan Bakar Kapal Dari Rumput Laut

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembangkan potensi bahan bakar kapal dari rumput laut (Foto. TIM PKM-RE UAD)
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya kelautan yang sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), wilayah perairan laut Indonesia mencapai sekitar 6,4 juta km2. Besarnya wilayah tersebut menjadi peluang untuk menggali berbagai potensi hayati laut, termasuk rumput laut. Pada 2025, produksi rumput laut Indonesia tercatat mencapai 10,80 juta ton dengan potensi lahan budidaya sekitar 26 juta hektare berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya (DJPB).
Potensi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) untuk mengeksplorasi pemanfaatan sumber daya laut sebagai alternatif bahan baku energi. Melalui pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim mahasiswa yang tergabung dalam The Alchemist of the Sea mengangkat penelitian berjudul “Perbandingan Pirolisis Katalitik Fe-Impregnated Biochar dan Non-Katalitik Sargassum sp. terhadap Kualitas Bio-Oil sebagai Marine Fuel Oil (MFO)”.
Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Siti Jamilatun, M.T., IPM. Fokus penelitian diarahkan pada pemanfaatan Sargassum sp. sebagai biomassa laut untuk menghasilkan bio-oil yang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif bagi sektor maritim.
Untuk menghasilkan produk tersebut, Sargassum sp. diproses menggunakan teknologi pirolisis. Pada tahap ini, biomassa mengalami proses penguraian akibat pemanasan dalam kondisi minim oksigen sehingga menghasilkan produk berupa bio-oil dan biochar. Bio-oil yang diperoleh selanjutnya menjalani proses pemurnian dan distilasi untuk mendapatkan karakteristik produk yang sesuai dengan bahan bakar yang ditargetkan.
Tidak hanya menghasilkan produk utama, biochar yang terbentuk dari proses pirolisis juga dimanfaatkan kembali dalam penelitian. Material tersebut diproses menjadi Fe-impregnated biochar dan digunakan sebagai katalis untuk membantu mengurangi kandungan senyawa beroksigen pada bio-oil. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk bahan bakar yang dihasilkan.
Tahap selanjutnya dilakukan melalui pengujian karakteristik bio-oil dengan mengacu pada parameter dan standar bahan bakar kapal yang telah digunakan secara komersial. Hasil pengujian tersebut akan menjadi dasar untuk melihat sejauh mana bio-oil berbasis Sargassum sp. memiliki potensi sebagai alternatif Marine Fuel Oil (MFO).
“Kami berharap penelitian ini dapat dilanjutkan dengan eksplorasi yang lebih luas terhadap potensi sumber daya laut Indonesia, terutama untuk mendukung pengembangan energi terbarukan di masa mendatang,” ujar Devi Murtiningsih selaku perwakilan tim The Alchemist of the Sea. (Anove)
