Masdah BSA UAD Pukau Penonton Lewat Pementasan “Sāhib Tob Tob”

Masdah BSA Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Pentaskan Sāhib Tob Tob (Foto. Masdah BSA UAD)
Kelompok Teater Masrahiyatul Jaudah (MASDAH) sukses memukau penonton dalam pementasan lakon bertajuk “Sāhib Tob Tob” yang digelar di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Rabu, 29 April 2026. Pementasan yang menjadi bagian dari rangkaian AWFEST #8 ini mengangkat kisah klasik tentang perjuangan seorang pemilik syair yang bertransformasi dari korban perundungan menjadi sosok besar di istana.
Sutradara pementasan, Salwa Salsabila, mengungkapkan bahwa pemilihan judul tersebut diambil dari potongan lirik syair ikonik tab tabi tab untuk menarik perhatian audiens melalui kesan yang unik.
“Alasannya karena lirik syair yang diangkat terkenal dengan kalimat tab tabi tab, dan kalimat Sāhib Tob Tob berarti pemilik tab tab yang secara kalimat terasa lucu untuk menarik penonton,” ujarnya.
Meskipun menyisipkan unsur humor dengan menghadirkan karakter manusia batu, inti cerita tetap berpijak pada sejarah asli pemilik syair pada masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Hal ini menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk mengenal kembali kejayaan sastra Arab masa lalu di tengah gempuran era digital saat ini.
Pesan utama yang ingin disampaikan dalam pementasan ini adalah la mustahil, yang berarti tidak ada yang mustahil di dunia ini selama seseorang terus berusaha. Salwa menekankan bahwa keberhasilan karakter utama tidak lepas dari kegigihan serta kekuatan spiritual yang menjadi fondasi dalam setiap harapan.
“Intinya tidak ada yang mustahil di dunia ini, semua bisa asal kita tidak menyerah, dan jangan lupa semua ini juga ada berkat doa ibu atau orang tua,” tutur Salwa saat menjelaskan pesan moral yang terselip di akhir pementasan. Harapannya, audiens yang menyaksikan dapat meyakini bahwa setiap impian dapat terwujud dengan usaha dan doa yang tulus.
Terkait proses produksi, persiapan pementasan ini memakan waktu kurang lebih selama 4 bulan dengan tantangan teknis terpotong masa liburan semester serta penyesuaian aktor baru. Salwa merasa sangat bahagia melihat antusiasme penonton yang melakukan registrasi, meskipun beberapa calon penonton berhalangan hadir karena pementasan diselenggarakan pada hari aktif kuliah.
Pementasan ditutup dengan megah melalui lantunan nasyid La Mustahil yang menggugah semangat para penonton di akhir acara. Kegiatan ini membuktikan bahwa literasi klasik Arab tetap memiliki daya tarik yang kuat jika dikemas dengan kreativitas dan pesan yang relevan bagi generasi masa kini. (anw)
