Mengembalikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Utama Umat Islam

Dr. H. M. Ikhwan Ahada, M.Ag. pemateri ceramah tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ito)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan rangkaian kegiatan Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H. Pada Ahad, 8 Maret 2026, salat Tarawih berjemaah dipimpin oleh Dr. H. M. Ikhwan Ahada, M.Ag., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sekaligus bertindak sebagai penceramah. Mengusung tema “Islam Berkemajuan di Bumi Mataram: Merespons Tantangan Kultural dan Sosial Yogyakarta”, tausiah kali ini secara khusus menyoroti kemuliaan Al-Qur’an dan bagaimana umat Islam semestinya mendudukkan kitab suci tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiahnya, Dr. Ikhwan mengawali dengan ungkapan rasa syukur atas nikmat usia sehingga jemaah dapat kembali berjumpa dengan bulan Ramadan. Ia mengutip Surah Yunus ayat 58 yang menyerukan agar umat Islam senantiasa bergembira atas karunia dan rahmat Allah Swt., yang nilainya jauh lebih besar daripada harta benda duniawi apa pun. Merujuk pada tafsir Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir karya Sulaiman Al-Asyqar, ia menjelaskan bahwa bentuk karunia dan rahmat terbesar yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an itu sendiri.
Ia menguraikan bahwa kemuliaan Al-Qur’an memancar dan mengangkat derajat segala hal yang bersinggungan dengannya. Al-Qur’an diturunkan melalui malaikat paling mulia, yakni Jibril, dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw., yang kemudian diangkat menjadi Sayyidul Anbiya wal Mursalin (penghulu para nabi dan rasul). Bahkan, bulan dan malam di mana Al-Qur’an diturunkan pun dimuliakan oleh Allah Swt. sebagai Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an) dan Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Lebih lanjut, ia memaparkan sebuah hadis Nabi Muhammad saw. yang mengklasifikasikan manusia ke dalam empat golongan berdasarkan sikapnya terhadap Al-Qur’an. Golongan pertama adalah mukmin yang suka membaca Al-Qur’an, diibaratkan seperti buah utrujah yang harum baunya dan manis rasanya. Kedua, mukmin yang tidak suka membaca Al-Qur’an, digambarkan laksana buah kurma yang tidak beraroma namun tetap manis rasanya. Golongan ketiga yaitu orang munafik yang suka membaca Al-Qur’an, diumpamakan sebagai buah raihanah yang harum aromanya namun pahit rasanya. Terakhir, golongan orang munafik yang tidak suka membaca Al-Qur’an, yang diibaratkan seperti buah hanzhalah dengan aroma tidak sedap dan rasa yang pahit.
Menutup ceramahnya, Dr. Ikhwan mengajak seluruh jemaah untuk merenungkan kembali posisi Al-Qur’an dalam kehidupan mereka. Ia mengimbau agar momentum Ramadan, bulan di mana pahala dilipatgandakan dan energi spiritual umat dipompa maksimal, dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Harapannya, Al-Qur’an dapat benar-benar menjadi panduan hidup (hidayah) dan bekal untuk mengarungi sebelas bulan yang akan datang. Tausiah pun diakhiri dengan pelaksanaan salat Tarawih yang diawali dengan salat Iftitah (Khafifatain). (Ito)
