Menjawab Tantangan Zaman, Dosen UAD Hadiri Sarasehan Resiliensi Berbasis Budaya

Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ikuti sarasehan sesiliensi berbasis budaya (Foto. Satrianawati)
Pesatnya disrupsi dan perubahan sosial menuntut pendidikan tidak lagi berfokus pada pencapaian akademik semata. Menyadari pentingnya penguatan mental generasi muda, delegasi dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) turut berpartisipasi dalam kegiatan Sarasehan Resiliensi Berbasis Budaya: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman yang diselenggarakan pada Sabtu-Minggu, 2-3 Mei 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh GKR Hayu serta sejumlah narasumber yang mayoritas merupakan praktisi psikologi anak dan keluarga. Sarasehan tersebut juga menjadi momentum peringatan 20 tahun pengabdian institusi Kemuning Kembar. Tidak sekadar ajang refleksi, kegiatan ini dirancang sebagai ruang strategis untuk merumuskan kembali penerapan nilai-nilai budaya dalam menghadapi tantangan era modern.
Salah satu narasumber utama, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog, menyoroti fenomena meningkatnya kegelisahan generasi muda yang mulai terlepas dari akar budayanya. “Pendidikan tidak bisa hanya berorientasi pada akademik semata. Kita membutuhkan generasi yang cerdas, tangguh, berempati, serta memiliki akar budaya yang kuat. Manusia tidak dapat dipisahkan dari relasi rasa dan budaya tempat ia tumbuh,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, konsep resiliensi dikaitkan dengan filosofi Jawa ora mingkuh, yang berarti pantang menyerah dalam menghadapi ujian kehidupan. Nilai ini dinilai relevan dengan pendekatan psikologi modern dalam membangun ketangguhan mental.
Kepala Dinas Kebudayaan, Dian Laksmi Pratiwi, menegaskan bahwa budaya merupakan sumber utama kekuatan kesehatan mental. Menurutnya, generasi muda yang berbudaya akan memiliki kepercayaan diri dan ketahanan hidup yang lebih baik.
Sementara itu, Dr. Restu Gunawan menekankan pentingnya pengarusutamaan kebudayaan dalam berbagai sektor pembangunan. Ia mengibaratkan budaya sebagai investasi abadi yang tidak akan habis, melainkan terus berkembang jika dilestarikan. “Budaya seperti harmoni gamelan. Kita tidak melihat latar belakang individu, tetapi semua beriringan menciptakan keindahan. Di dalamnya terdapat nilai toleransi dan pengendalian diri,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya prinsip kebahasaan: memperkuat bahasa asing, mengokohkan bahasa Indonesia, dan melestarikan bahasa daerah.
Pada hari pertama, kegiatan sarasehan dibagi ke dalam tiga sesi utama yang memadukan diskusi dan pementasan seni. Panel pertama membahas strategi pengembangan sumber daya manusia masa depan, menghadirkan anggota Komisi X DPR RI, Ruby Chaerani Syiffadia, serta GKR Hayu. Panel kedua mengangkat konsep langen cerita sebagai media penanaman nilai melalui seni tutur dan gerak. Sesi ketiga mengulas filosofi tari Jawa (wiraga, wirama, wirasa) sebagai sarana pengembangan karakter dan pengolahan rasa.
Keterlibatan dosen UAD dalam sarasehan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan iklim akademik di kampus. Nilai-nilai resiliensi berbasis budaya diharapkan dapat diintegrasikan dalam kurikulum dan pendekatan pembelajaran, sehingga mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan berkarakter kuat. (Mawar)
