UAD Perkuat Kepemimpinan Fakultas melalui Program Leadership Retreat for Deans

Leadership Retreat for Deans Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan Leadership Retreat for Deans bertema “Higher Education Leadership: From Local Impact to Global Reputation” pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dekan dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Prof. Hamish Bennett Coates, Ph.D. dari Tsinghua University, Tiongkok, hadir sebagai pembicara utama dalam sesi “Higher Education Leadership: From Local Impact to Global Reputation”. Dalam sesi tersebut, Hamish membahas pentingnya perguruan tinggi membangun kualitas sekaligus mampu mengomunikasikan kualitas tersebut agar dikenal secara luas.
“Universitas harus punya kualitas sekaligus mampu ‘menjual’ kualitasnya,” kata Hamish.
Hamish menggunakan analogi restoran untuk menjelaskan pentingnya visibilitas universitas. Ia menggambarkan bahwa restoran dengan makanan yang enak tidak akan didatangi pelanggan apabila keberadaannya tidak diketahui. Menurutnya, kondisi serupa dapat terjadi pada perguruan tinggi yang memiliki kualitas baik, tetapi belum mampu mengkomunikasikan dan mempromosikan keunggulannya.
“Kalau makanannya enak tetapi tidak ada yang tahu restorannya, pelanggan tidak akan datang,” jelasnya.
Menurut Hamish, upaya memperkuat daya saing universitas tidak hanya dilakukan melalui promosi. Perguruan tinggi perlu menghasilkan dampak nyata melalui kepemimpinan dan pengembangan staf serta komunitas, karya ilmiah, maupun lulusan yang memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti visibilitas pendidikan tinggi Indonesia di tingkat internasional. Menurut Hamish, Indonesia memiliki kualitas pendidikan tinggi yang baik, tetapi keberadaannya belum cukup dikenal secara global. Ia menceritakan bahwa ketika sejumlah akademisi internasional diminta menyebutkan universitas di Indonesia, sebagian tidak mampu menyebutkannya.
“Ini bukan semata-mata masalah kualitas, tetapi juga masalah visibilitas dan komunikasi internasional,” katanya.
Selain visibilitas, Hamish menekankan pentingnya keberanian perguruan tinggi untuk bereksperimen dan mengambil risiko dalam mendorong inovasi. Ia mengingatkan agar penerapan quality assurance tidak membuat perguruan tinggi terlalu berorientasi pada aturan dan menghindari risiko. Menurutnya, pendidikan tinggi membutuhkan ruang untuk mencoba pendekatan baru dan mengambil risiko secara terukur.
Sementara Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia UAD Dr. Norma Sari, S.H., M.Hum. mengatakan, kegiatan ini merupakan momentum bagi UAD agar tidak sekadar merefleksikan apa yang telah dicapai, tetapi juga membahas apa yang perlu kita capai ke depan.
Leadership Retreat for Deans dirancang sebagai lokakarya interaktif yang memadukan pemaparan ahli, refleksi terarah, diskusi, dan brainstorming. Melalui kegiatan ini, setiap fakultas diharapkan dapat mengidentifikasi kekuatan dan potensi yang dimiliki serta menerjemahkannya ke dalam langkah strategis yang berdampak, termasuk dalam penguatan kemitraan internasional, kesiapan akademik, pengembangan lulusan, dan pembangunan reputasi UAD di tingkat global. (Dnd)
