Kemuliaan Guru sebagai Penjaga Peradaban

Dr. Mhd. Lailan Arqam, M.Pd.I., Dosen Dosen Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Pengajian Bulanan Mahasiswa ke-5 pada Rabu, 26 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan penceramah Dr. Mhd. Lailan Arqam, M.Pd.I., Dosen Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) sekaligus Direktur Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Mengusung tema āGuru Hebat, Pimpinan Umat: Memantaskan Diri Sejak di Bangku Kuliahā, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan spiritual sekaligus penguatan identitas bagi calon pendidik.
Dr. Lailan menegaskan kedudukan guru sebagai profesi yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk arah peradaban.
āKita harus sepakat dulu bahwa guru itu bukan sekadar profesi, bukan pula peranan sederhana, tetapi memiliki peran penting dan strategis,ā tuturnya.
Ia menambahkan bahwa guru merupakan representasi masa depan bangsa. āKalau ingin melihat seperti apa kehidupan bangsa ini 20, 30, bahkan 50 tahun ke depan, lihatlah dari calon-calon gurunya,ā ujarnya.
Dr. Lailan juga menyampaikan ilustrasi anekdot mengenai tiga calon penghuni surga, yaitu seorang ahli ibadah (abid), seorang dermawan, dan seorang ilmuwan. Ketiganya berlomba ingin masuk surga terlebih dahulu. Setiap kali malaikat bertanya sumber amal dan ilmu mereka, semuanya menjawab: āDari guru.ā
Dari kisah itu, ia menyimpulkan, āBerarti yang paling berhak masuk surga pertama adalah guru. Dan siapa guru itu? Ya, kalian mahasiswa FKIP UAD,ā tandasnya.
Lebih jauh, ia menerangkan bahwa pendidik pertama dalam sejarah peradaban adalah Allah Swt. sendiri. āPemilik ilmu, penguasa ilmu, dan sumber ilmu itu adalah Allah. Adam tidak tahu apa-apa hingga Allah mengajarinya,ā jelasnya. Dari titik itu, ia menggambarkan bagaimana pengetahuan berkembang dari generasi ke generasi hingga lahirlah peradaban manusia yang terus bertumbuh melalui proses belajar.
Ia juga mengingatkan bahwa profesi guru merupakan kelanjutan dari misi kenabian. āSetelah Nabi wafat, misi keagamaan tidak berhenti. Yang melanjutkan siapa? Para guru, para mualim, orang-orang mulia yang meneruskan perjuangan Nabi,ā tuturnya.
Menurutnya, guru tidak hanya melakukan transfer ilmu, tetapi juga membangun karakter, moral, dan budaya masyarakat. (Mawar)
