Pengajian Ramadan PWM DIY Perkuat Sinergi Pelestarian Lingkungan

Sambutan Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Muchlas, M.T., pada Pengajian Ramadan PWM DIY (Foto. Humas UAD)
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM DIY) menyelenggarakan Pengajian Ramadan pada Sabtu–Minggu, 28 Februari–1 Maret 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Amphitarium Lantai 9 Gedung Ahmad Dahlan Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Pengajian tahun ini mengusung tema “Keadaban Ekologis untuk Masa Depan Semesta” sebagai ajakan untuk berpikir jernih, bersikap berani, dan bertanggung jawab demi keberlangsungan kehidupan. Tema tersebut menjadi refleksi atas pentingnya kesadaran ekologis dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Sebagai bagian dari risalah Islam Berkemajuan, Muhammadiyah memandang bahwa membangun peradaban ekologis merupakan mandat teologis yang tidak dapat ditawar. Upaya menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan kehidupan diposisikan sebagai tanggung jawab moral sekaligus spiritual umat Islam.
Rektor UAD, Prof.Muchlas, dalam sambutannya menegaskan bahwa tugas Muhammadiyah tidak terbatas pada kepentingan jangka pendek, melainkan perjuangan berkelanjutan yang dilandasi keyakinan bersama.
“Tugas Muhammadiyah tidak hanya untuk KHGT saja. Insyaallah akan ada saatnya, entah berapa hari atau berapa abad ke depan. Kita terus berjuang untuk keyakinan yang kita tetapkan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa memperjuangkan keadaban lingkungan perlu terus ditumbuhkembangkan di lingkungan persyarikatan. Menurutnya, isu kelestarian bumi telah menjadi kebijakan dan perhatian global yang menuntut kontribusi nyata dari seluruh elemen masyarakat.
“Memperjuangkan keadaban lingkungan ini harus tumbuh dan berkembang di persyarikatan kita, karena masyarakat global saat ini menjadikan kelestarian bumi sebagai kebijakan bersama,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua PWM DIY, Dr. Muh. Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A., menyoroti berbagai persoalan ekologis yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut kerusakan alam akibat pertambangan yang tidak bertanggung jawab berdampak luas terhadap kehidupan. Selain itu, sekitar 60 persen sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar.
“Kerusakan alam karena pertambangan yang tidak bertanggung jawab telah membawa dampak yang tidak baik bagi kehidupan. Realitasnya, sekitar 60 persen sungai kita dalam kondisi tercemar. Ini tentu menjadi peringatan serius bagi kita semua,” ujarnya.
Ia juga menyinggung persoalan sampah plastik yang merusak ekosistem laut hingga menyebabkan terumbu karang yang semula indah berubah seperti kawasan terdampak perang. Lenyapnya hutan serta praktik modifikasi cuaca yang berpotensi memunculkan bencana baru di wilayah yang belum siap juga menjadi perhatian serius.
“Sampah plastik telah mempidana ekosistem laut. Terumbu karang yang indah bisa berubah seperti bekas perang. Hutan-hutan kita pun terus lenyap, dan kini muncul praktik modifikasi cuaca yang berpotensi menghadirkan bencana baru di tempat yang belum siap menghadapinya,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan modifikasi cuaca menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk dalam hal pengendalian dan mitigasi yang melibatkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
“Modifikasi cuaca ini menjadi PR kita bersama. Pengendalian dan mitigasinya harus benar-benar diperhatikan, karena jika tidak terkendali, dampaknya bisa luas,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa tema pengajian ini sangat relevan dan tidak boleh berhenti pada forum diskusi semata, tetapi harus diwujudkan dalam gerakan praksis.
“Pengajian ini tidak boleh berhenti sebagai ruang diskusi. Ini harus menjadi gerakan praksis yang kita mulai dari lingkungan persyarikatan, lalu menginspirasi dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk menyelamatkan lingkungan melalui pola dan tindakan yang tepat,” pungkasnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga dilaksanakan peluncuran buku Ekologi Berkemajuan serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PWM DIY dan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan sebagai bentuk komitmen bersama dalam penguatan gerakan pelestarian lingkungan. (Dnd)
