Cegah Stunting, Mahasiswa KKN UAD Olah Lele jadi Camilan Bergizi di Tegalkopen

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kenalkan camilan bergizi berbahan dasar lele (Foto. KKN UAD)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Alternatif Periode ke-103 Unit I.C.2 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pengolahan hasil budidaya lele yang merupakan komoditas unggulan di Tegalkopen, Wonocatur, Banguntapan. Pelatihan ini menyasar ibu-ibu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang menjadi perwakilan dari enam Pokdarwis pada Sabtu, 14 Februari 2026, di Balai RW 29 Tegalkopen.
Ketua KKN Unit I.C.2, dalam sambutannya menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda formalitas penyelesaian KKN, tetapi diharapkan mampu mendorong Pokdarwis dalam menciptakan produk lokal khas Tegalkopen.
“Kami ingin mengubah pola pikir bahwa lele hanya bisa digoreng. Dengan inovasi pengolahan, ibu-ibu Pokdarwis bisa menciptakan produk dengan merek lokal Tegalkopen yang mampu menembus pasar, sekaligus memastikan anak-anak di Tegalkopen mendapatkan asupan protein terbaik untuk mencegah stunting,” ujarnya.
Pelatihan ini bertujuan menjawab permasalahan para pembudidaya lele di Tegalkopen, seperti cara meningkatkan nilai jual, risiko gagal panen, serta penurunan harga saat panen melimpah. Selain sebagai komoditas unggulan, ikan lele dipilih karena mengandung protein tinggi, harga yang ekonomis, dan efektif mencegah stunting.
Mahasiswa KKN Unit I.C.2 mempraktikkan cara mengolah ikan lele menjadi berbagai produk turunan yang memiliki daya simpan lebih lama yaitu tahu bakso lele dan sempol lele sehat tanpa pengawet. Tahap pengadonan merupakan kunci utama dalam menghasilkan olahan dengan tekstur kenyal dan lembut, serta memastikan bumbu dan gizi ikan tercampur merata sehingga disukai anak-anak.
Antusiasme peserta terlihat dari respon positif dari salah satu perwakilan Pokdarwis yang hadir. Ia mengaku selama ini warga sering kebingungan saat harga lele di tingkat pengepul turun hingga Rp15.000/kg. Melalui pelatihan ini, warga memiliki alternatif untuk mengolah hasil panen sendiri menjadi produk dengan nilai jual dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi.
Acara ditutup dengan sesi mencicipi hasil olahan bersama dan pembagian modul resep digital agar para peserta dapat mempraktikkannya kembali di rumah. Harapannya, kegiatan ini dapat memantik terbentuknya Unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) baru di Tegalkopen berbasis pada komoditas unggulan daerah, sekaligus mendukung terciptanya generasi sehat bebas stunting. (Mei)
