Membangun Kepercayaan Diri Umat: Mengupas Sejarah Iran sebagai “Empire of Mind”

Ustaz Hendra Darmawan, S.Pd., M.A. pemateri Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Itoshiko)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada 26 April 2026. Kajian ini menghadirkan Ustaz Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY sekaligus Dosen UAD, dengan mengusung tema “Belajar dari Iran sebagai Empire of Mind“. Tema ini terinspirasi dari kekaguman dunia Barat terhadap sejarah panjang peradaban Persia yang banyak melahirkan raksasa pemikiran Islam.
Dalam pemaparannya, Ustaz Hendra menjelaskan bahwa banyak mufasir, ahli hadis, hingga pakar tata bahasa Arab terkemuka yang justru berasal dari keturunan Persia. Ia menyebutkan beberapa nama besar seperti Fakhruddin Ar-Razi, Ibnu Malik sang penulis kitab Al-Fi’yah, At-Tabarsi, hingga Maulana Jalaluddin Rumi yang terkenal dengan mahakaryanya Al-Masnawi. Pengenalan terhadap sejarah kegemilangan ilmuwan muslim ini bertujuan agar umat Islam tidak merasa inferior atau rendah diri, melainkan bangga dan percaya diri atas tradisi keilmuan Islam yang pernah berjaya di masa lampau.
Lebih lanjut, ia menyoroti resiliensi Iran yang mampu bertahan dan justru berkembang pesat meskipun telah menghadapi embargo dari negara-negara Barat selama hampir setengah abad. Kunci dari daya tahan tersebut adalah konsep i’dad atau upaya sungguh-sungguh dalam mempersiapkan generasi yang matang. Hal ini terbukti dari komposisi pemimpin negara dan menteri di Iran yang rata-rata memiliki latar belakang pendidikan tinggi di level doktor hingga profesor, serta aktif menghasilkan karya keilmuan yang diakui secara global.
Ustaz Hendra juga mengisahkan momen bersejarah Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang digerakkan oleh Imam Khomeini. Perlawanan untuk meruntuhkan kepemimpinan tirani Syah Pahlavi kala itu tidak dilakukan dengan kekuatan senjata, melainkan melalui kekuatan lisan dan seruan moral yang disebarkan secara masif kepada masyarakat. Peristiwa revolusi yang turut didokumentasikan secara langsung oleh jurnalis asal Indonesia, Nasir Tamara, tersebut menjadi manifestasi nyata dari jihadul akbar, yakni keberanian menyuarakan kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim.
Menutup kajian, ia mengajak jemaah merenungkan pesan Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 60 mengenai urgensi umat Islam dalam membekali diri dengan kekuatan dan teknologi mutakhir. Merespons tantangan zaman tersebut, ia mendukung imbauan Prof. Din Syamsuddin agar institusi pendidikan Muhammadiyah mulai membuka program studi bidang teknologi strategis. Di saat yang sama, ia turut menyampaikan rasa bangganya terhadap UAD yang telah memiliki pakar sekelas Prof. Haryadi dalam riset pengembangan teknologi rudal. Ke depannya, umat Islam didorong untuk terus melahirkan generasi penerus yang tangguh; tidak hanya mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga unggul dalam penguasaan sains dan teknologi. (Ito)
