Mahasiswa UAD Buat Inovasi Produk Moodpatch Bernuansa Budaya Yogyakarta

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) buat inovasi produk Moodpatch bernuansa budaya Yogyakarta (Foto. Tim Moodpatch)
Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAD berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Tim beranggotakan Fauzan Khairullah, Rizky Zeptheady Karim, Rofiq Yurdhika, Nadya Maykaysha Widodo, dan Muhamad Rafli Nadiansyah yang seluruhnya merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan.
Melalui inovasi bertajuk Moodpatch, tim menghadirkan produk aromatherapy patch yang memadukan manfaat aromaterapi dengan kearifan budaya Yogyakarta sebagai solusi untuk membantu mengurangi tingkat stres, khususnya di kalangan mahasiswa dan Generasi Z.
Keberhasilan tersebut disambut dengan rasa syukur oleh seluruh anggota tim. Ketua Tim, Fauzan Khairullah mengatakan, “Kami sangat senang dan bersyukur karena menjadi salah satu tim dari ribuan tim di seluruh Indonesia yang diamanahi oleh Kemendiktisaintek untuk merealisasikan business plan kami,” ujarnya.
Ide bisnis Moodpatch berangkat dari tingginya tingkat tekanan mental yang dialami mahasiswa akibat padatnya aktivitas akademik maupun berbagai tuntutan kehidupan. Melihat kondisi tersebut, tim menghadirkan produk patch aromaterapi yang dipadukan dengan instrumen musik gamelan yang terbukti memberikan efek relaksasi sekaligus memperkenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda.
Mengusung konsep budaya Yogyakarta, setiap produk Moodpatch menggunakan nama tokoh pewayangan sebagai identitas variannya. Produk ini hadir dalam empat varian, yakni Semar Series dengan karakter Calm (Tentrem ing Manah) yang memberikan efek menenangkan, Arjuna Series dengan karakter Relax (Lega ing Rasa) untuk membantu menciptakan rasa rileks, Bima Series dengan karakter Focus (Teteg ing Tujuan) yang mendukung konsentrasi, serta Srikandi Series dengan karakter Energy (Semangat Tanpa Wates) yang membantu meningkatkan semangat beraktivitas. Seluruh varian dipadukan dengan harmoni musik gamelan sehingga memberikan pengalaman relaksasi yang unik sekaligus menjadi media pelestarian budaya Indonesia.
Fauzan menambahkan, “Selain mengusung konsep budaya, Moodpatch juga dapat digunakan oleh semua kelompok usia. Produk ini tersedia dalam empat varian dengan harga yang terjangkau, yakni Rp12.000,00 per kemasan, sehingga diharapkan dapat diakses oleh masyarakat luas, khususnya kalangan muda,” jelasnya.
Perjalanan hingga memperoleh pendanaan nasional diawali dengan pembentukan tim yang terdiri atas mahasiswa Teknik Industri UAD dengan visi yang sama untuk membangun usaha. Mereka kemudian melakukan riset mengenai permasalahan kesehatan mental yang banyak dialami mahasiswa sebelum merancang konsep Moodpatch sebagai solusi inovatif.
Setelah berhasil memperoleh pendanaan, tim menargetkan Moodpatch dapat dipasarkan secara lebih luas kepada masyarakat, khususnya kalangan muda. Selain itu, mereka juga menargetkan lolos ke Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo serta mampu melanjutkan pengembangan usaha hingga mencapai tahapan bertumbuh pada Program P2MW tahun 2027.
Tim berharap Moodpatch tidak hanya menjadi produk yang lahir dari program kewirausahaan mahasiswa, tetapi juga berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Melalui inovasi ini, mereka ingin membantu menekan tingkat stres generasi muda sekaligus mengenalkan kembali budaya lokal melalui sentuhan tokoh pewayangan dan harmoni musik gamelan yang dikemas dalam produk yang modern, praktis, dan mudah digunakan. (Mawar)
