KKN UAD Edukasi Siswa SMP Muhammadiyah Piyungan tentang Pencegahan Bullying

KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) edukasi siswa SMP Muhammadiyah Piyungan tentang pencegahan bullying (Foto. KKN UAD)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Unit III.A.2 menggelar edukasi mengenai bullying dan cyberbullying bagi siswa SMP Muhammadiyah Piyungan pada Jumat, 18 September 2026.
Kegiatan yang disampaikan oleh Yuhandi dan Nisrina ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai bentuk-bentuk perundungan, dampak yang ditimbulkan, serta cara menyikapi bullying di lingkungan sekolah maupun media sosial.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai bullying dan cyberbullying. Siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengejek teman, memberikan panggilan yang tidak disukai, mempermalukan seseorang di depan teman-temannya, mengucilkan, hingga memberikan komentar menyakitkan melalui media sosial.
Salah satu hal yang menjadi pembahasan adalah perbedaan antara bercanda dan bullying. Candaan yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Ketika suatu perkataan atau tindakan membuat orang lain merasa malu, tersinggung, atau tidak nyaman, penting untuk menyadari dampaknya dan menghentikan perilaku tersebut.
Nisrina menyampaikan bahwa siswa perlu membiasakan diri berperilaku baik, tidak hanya kepada teman, tetapi juga kepada guru dan seluruh warga sekolah. Sikap tersebut juga perlu diterapkan dalam kehidupan di rumah.
“Sebagai siswa, kita perlu memiliki perilaku yang baik terhadap teman, guru, dan seluruh warga sekolah, serta menerapkan perilaku baik di rumah,” ujarnya.
Dalam penyampaian materi, siswa juga diberikan contoh cyberbullying yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti komentar yang merendahkan, penyebaran foto atau unggahan tanpa izin, serta pesan yang bertujuan menyakiti orang lain. Melalui pembahasan ini, siswa diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan memahami bahwa perilaku di ruang digital juga memiliki dampak terhadap orang lain.
Sementara itu, Yuhandi menekankan pentingnya menjaga akhlak dan etika ketika berinteraksi di media sosial, terutama dalam menyampaikan perkataan dan komentar.
“Dalam bermedia sosial, kita harus tetap memiliki akhlak dan etika, termasuk menjaga perkataan agar tidak menyakiti perasaan orang lain,” katanya.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan studi kasus mengenai bullying dan cyberbullying. Siswa diajak berdiskusi untuk mengidentifikasi permasalahan dalam setiap kasus, memahami dampak yang mungkin dirasakan korban, serta menentukan tindakan yang tepat apabila menemukan kejadian serupa di lingkungan sekolah maupun media sosial.
Diskusi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat persoalan perundungan dari berbagai sudut pandang. Siswa tidak hanya belajar mengenali bentuk bullying, tetapi juga memahami pentingnya menghargai perasaan orang lain dan berani mengambil sikap ketika menghadapi situasi yang tidak tepat.
Pada akhir kegiatan, siswa diberikan sticky notes untuk menuliskan perasaan dan hal-hal yang mereka peroleh setelah mengikuti penyuluhan. Kegiatan refleksi ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengungkapkan pemikiran mereka secara sederhana sekaligus memahami pentingnya mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain dalam membangun hubungan pertemanan yang sehat.
Melalui penyampaian materi, diskusi studi kasus, dan refleksi, kegiatan penyuluhan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa SMP Muhammadiyah Piyungan untuk mencegah bullying dan cyberbullying. Pemahaman tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan pertemanan yang lebih aman, nyaman, dan saling menghargai, baik di sekolah maupun di media sosial. (Mei)
