Mahasiswa Internasional Pilih UAD, Tumbuh dalam Pengalaman Lintas Budaya

Salah satu mahasiswa internasional Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tahun 2026 (Foto. KKUI UAD)
Perbedaan negara, bahasa, dan budaya tidak menjadi batas bagi 22 mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Mereka datang dari berbagai latar belakang dan memilih UAD sebagai ruang untuk memperluas pengetahuan sekaligus mengenal kehidupan akademik dan budaya Indonesia.
Di antara mahasiswa internasional tersebut, Abdulsamad Musa Babuga dari Gombe State, Nigeria, dan Panshu dari Hainan, China, menjadi dua sosok yang membawa cerita tentang pengalaman beradaptasi dengan lingkungan baru. Keduanya datang dengan latar belakang dan bidang studi yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan membangun pengalaman lintas budaya selama menempuh pendidikan di UAD.
Abdulsamad kini menempuh Program Studi Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD. Ketertarikannya pada elektronika, teknologi, dan pendidikan vokasional menjadi alasan utama memilih program studi tersebut. Ia mengenal UAD melalui informasi mengenai perguruan tinggi di Indonesia, kemudian mencari informasi lebih lanjut mengenai program studi yang tersedia.
“Saya memilih UAD karena program Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika sesuai dengan minat saya di bidang elektronika, teknologi, dan pendidikan vokasional. Saya juga tertarik dengan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan akademik dan praktik di lingkungan yang internasional,” ujar Abdulsamad.
Sementara itu, Panshu berasal dari Hainan, China. Ia menempuh Program Studi Sastra Indonesia UAD melalui program kerja sama 2+2 antara UAD dan Hainan College of Foreign Studies (HNCFS). Melalui skema tersebut, mahasiswa dari perguruan tinggi mitra di China dapat melanjutkan sebagian masa studinya di UAD. Program ini menjadi salah satu bentuk kerja sama internasional UAD dengan perguruan tinggi di China dalam pengembangan pendidikan dan pengalaman akademik lintas negara.
Panshu mengenal UAD melalui program kerja sama tersebut serta informasi yang diberikan oleh dosen yang mengajarnya di Hainan. Selain menjadi bagian dari skema pendidikan internasional, reputasi UAD dan lingkungan belajar yang mendukung turut menjadi pertimbangannya untuk melanjutkan studi di Indonesia. Kini, ia menempuh Program Studi Sastra Indonesia UAD, bidang yang sekaligus memberinya ruang untuk memperdalam bahasa dan budaya Indonesia secara langsung.
Menjadi mahasiswa di negara lain tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Bahasa, budaya, dan sistem pendidikan menjadi hal-hal baru yang perlu dipahami. Bagi Abdulsamad, masa awal sebagai mahasiswa internasional menjadi kesempatan untuk belajar beradaptasi. Melalui kegiatan Program Pengenalan Kampus (P2K), ia bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan belajar berkomunikasi serta bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Pengalaman serupa dirasakan Panshu. Saat pertama kali datang ke UAD, ia sempat merasa gugup menghadapi perbedaan bahasa dan budaya. Namun, keramahan mahasiswa membuat proses adaptasinya terasa lebih mudah. P2K menjadi salah satu ruang awal baginya untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus membangun pertemanan.
“Awalnya saya sedikit gugup karena bahasa dan budaya yang berbeda, tetapi kakak-kakak dan teman-teman sangat ramah. Kegiatan P2K membantu saya beradaptasi, mengenal kampus, dan bertemu banyak teman baru. Saya merasa senang bisa mengikuti kegiatan itu,” ungkap Panshu.
Kesan terhadap lingkungan UAD pun menjadi bagian dari pengalaman keduanya. Abdulsamad melihat UAD sebagai lingkungan yang ramah dan mendukung mahasiswa. Ia juga menikmati kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia serta mengenal keberagaman yang ada di lingkungan kampus. Sementara itu, Panshu menggambarkan UAD sebagai kampus yang hijau, bersih, dan nyaman. Keramahan mahasiswa membuatnya merasa diterima meskipun berasal dari negara lain.
Bagi Abdulsamad, perjalanan di UAD bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik. Ia ingin memperkuat pengetahuan dan keterampilan di bidang elektronika dan pendidikan vokasional, sekaligus mengembangkan pengalaman penelitian, khususnya dalam teknologi dan energi terbarukan. Kemampuan komunikasi, kerja sama, penelitian, dan kepemimpinan juga menjadi kompetensi yang ingin ia kembangkan selama berada di UAD.
Setelah menyelesaikan studi sarjana, Abdulsamad berharap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dan mengembangkan karier di bidang teknologi, energi terbarukan, serta penelitian. Ia ingin ilmu yang diperolehnya tidak berhenti sebagai pencapaian akademik, tetapi dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Panshu ingin menjadikan masa studinya di UAD sebagai kesempatan untuk memperdalam kemampuan bahasa Indonesia, terutama dalam berbicara dan menulis akademik. Ia juga ingin memahami budaya Indonesia secara lebih dekat melalui berbagai kegiatan kampus. Organisasi, seminar, dan kegiatan sosial menjadi ruang yang ingin dimanfaatkannya untuk memperluas pengalaman sekaligus membangun relasi dengan mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional lainnya.
Kehadiran 22 mahasiswa internasional di UAD menghadirkan ruang perjumpaan yang lebih luas. Kampus tidak hanya menjadi tempat bertemunya mahasiswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya berbagai bahasa, budaya, dan perspektif. Bagi Abdulsamad dan Panshu, keberadaan di lingkungan yang berbeda dari negara asal menjadi kesempatan untuk belajar melihat dunia dari sudut pandang yang lebih beragam.
Dua cerita tersebut menjadi bagian dari perjalanan 22 mahasiswa internasional yang kini menjalani kehidupan akademik di UAD. Mereka datang dari tempat yang berbeda, membawa tujuan masing-masing, lalu menemukan pengalaman baru melalui ruang pendidikan yang mempertemukan mereka dengan Indonesia. Dari sana, perjalanan kuliah tidak sekadar menjadi proses akademik, tetapi juga perjalanan untuk memahami perbedaan, membangun relasi, dan tumbuh menjadi pribadi dengan wawasan yang lebih luas. (Mawar)
