Mahasiswa KKN UAD Gelar Penyuluhan Pemanfaatan Jahe Emprit dan Jahe Merah

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) adakan penyuluhan pemanfaatan jahe emprit dan jahe merah (Foto. KKN UAD)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 103 Unit B3 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sukses menggelar penyuluhan mengenai pemanfaatan, pengolahan, dan manfaat jahe emprit serta jahe merah. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Padukuhan Sorowajan, Jaranan, Banguntapan, Bantul, pada Sabtu, 18 Januari 2026.
Kegiatan ini direalisasikan oleh mahasiswa KKN, yaitu Tasyah Adelia Samang, Dwi Purwanto, M. Hilman Alfiqri, Siti Mamnu’ah, Mohammad Ardya Noor Azmi, Salsabilla Dhita Kirana Subandi, Farih Ibnu Zulfa, dan Sakis Chemamat.
Koordinator Kegiatan sekaligus pemateri penyuluhan, Farih Ibnu Zulfa, menjelaskan bahwa jahe merupakan tanaman herbal yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
“Jahe mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti gingerol, shogaol, dan minyak atsiri yang memberikan efek anti-inflamasi, antioksidan, serta antimikroba. Dua varietas yang kita kenal, yaitu jahe emprit dan jahe merah, memiliki karakteristik dan manfaat yang berbeda,” ujarnya.
Menurut Farih, jahe merah mengandung gingerol dan shogaol yang lebih tinggi sehingga memberikan efek farmakologis yang lebih kuat, terutama sebagai anti-inflamasi dan antioksidan. Jahe merah juga kaya akan antosianin yang memberikan warna merah khas dan bermanfaat untuk kesehatan jantung. Sementara itu, jahe emprit memiliki kandungan minyak atsiri lebih tinggi sehingga lebih cocok untuk stimulan pencernaan dan aromaterapi.
“Jahe emprit lebih cocok untuk konsumsi sehari-hari sebagai minuman atau bumbu masakan, sedangkan jahe merah lebih direkomendasikan untuk keperluan pengobatan, seperti mengatasi nyeri sendi, rematik, atau meningkatkan daya tahan tubuh,” jelas Farih.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UAD, Nur Hidayah, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan penyuluhan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara mengolah jahe menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Kami ingin warga tidak hanya menanam jahe, tetapi juga bisa mengolahnya menjadi serbuk jahe, teh jahe, atau bahkan minyak atsiri yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” ungkapnya.
Warga melakukan praktik pembuatan wedang jahe dan serbuk jahe instan yang dapat dikonsumsi sehari-hari ataupun dikembangkan sebagai usaha rumahan. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar cara budi daya jahe yang baik serta perbedaan khasiat kedua jenis jahe tersebut.
“Kami berharap dengan adanya penyuluhan ini, warga semakin sadar akan potensi jahe sebagai tanaman obat keluarga dan dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kesehatan serta perekonomian keluarga,” pungkas Farih. (Mei)
