RS UAD Bekali Dahlan Muda Kiat Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental

Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekali dahlan muda kiat menjaga kesehatan fisik dan mental (Foto. Humas UAD)
Menjadi mahasiswa baru bukan sekadar soal kesiapan akademis, tetapi juga menuntut ketangguhan fisik dan mental. Menyadari hal tersebut, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan sesi edukasi kesehatan bagi ribuan Dahlan Muda dalam rangkaian Program Pengenalan Kampus (P2K) 2026 di Jogja Expo Center (JEC) pada Rabu, 16 September 2026. Sesi edukasi ini ikut mempertegas komitmen kampus dalam menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan inklusif.
Hadir secara langsung sebagai narasumber, Direktur Rumah Sakit (RS) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dr. Asri Priyani Muryatiningsih, MPH., CHMC., FISQua., memaparkan bahwa fase perkuliahan adalah masa transisi yang krusial. Pada masa ini, mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri, terutama dalam mengelola kesehatannya sendiri tanpa pengawasan langsung dari orang tua.
Terkait kesehatan fisik, dr. Asri menyoroti tiga ancaman yang kerap mengintai mahasiswa baru, yakni gangguan pencernaan (dispepsia/maag), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan kelelahan kronis atau burnout. Masalah pencernaan sering kali muncul akibat jam makan yang berantakan dan kebiasaan jajan sembarangan, sementara ISPA sangat rentan terjadi di tengah kondisi cuaca yang banyak debu.
Oleh karena itu, asupan gizi menjadi hal yang tidak boleh dikompromikan. Ia menekankan bahwa otak harus diisi dengan kapasitas gizi yang cukup, mencakup karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin yang seimbang demi menunjang pencapaian target akademik mahasiswa. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hidrasi dengan minum air putih minimal dua liter per hari dan tidak menyepelekan waktu tidur ideal selama delapan jam.
Lebih dari sekadar fisik, dr. Asri juga memberikan perhatian khusus pada isu kesehatan mental. Mahasiswa perantau sangat rentan mengalami gegar budaya (culture shock) maupun rindu rumah (homesickness). Ditambah lagi dengan beban tugas perkuliahan dan dinamika relasi sosial yang bisa memicu kecemasan. Untuk itu, mahasiswa diajak untuk lebih peka terhadap sinyal bahaya dari tubuhnya sendiri, seperti hilangnya nafsu makan hingga keinginan untuk menarik diri dari pergaulan.
Sebagai langkah penanganan awal, dr. Asri mewanti-wanti mahasiswa agar tidak mudah melakukan self-diagnosis berbekal informasi dari media sosial. Langkah yang paling bijak adalah berbagi cerita dengan sahabat terdekat atau Dosen Pembimbing Akademik (DPA).
Jika membutuhkan bantuan lebih lanjut, mahasiswa tidak perlu khawatir karena UAD telah menyediakan fasilitas layanan kesehatan yang terintegrasi. dr. Asri menjelaskan bahwa UAD memiliki jejaring klinik yang tersebar di Kampus 1, Kampus 3, dan Kampus 4. Apabila mahasiswa memerlukan perawatan tingkat lanjut, baik rawat jalan maupun rawat inap, RS UAD yang dilengkapi dengan fasilitas poliklinik hingga IGD 24 jam selalu siap membantu menangani permasalahan kesehatan fisik maupun psikis mahasiswa.
Sejalan dengan komitmen perlindungan di lingkungan kampus, dr. Asri menegaskan bahwa RS UAD turut mendukung penuh gerakan Satgas PPKPT melalui fasilitas pendampingan medis. Ia mengajak seluruh Dahlan Muda untuk berani bersuara (speak up), menolak segala bentuk perundungan maupun senioritas yang tidak sehat, serta bergerak bersama memutus rantai kekerasan demi mewujudkan kampus yang harmonis. (Ito)
