Islam Wasathiyah: Hadirkan Wajah Agama yang Menyejukkan di Ruang Publik

Ceramah Tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Ika)
Ceramah Tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada 27 Februari 2026 hadirkan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag., sebagai pemateri. Dalam tausiyahnya, dibahas terkait Islam Wasathiyah dan menekankan pentingnya bagaimana menghadirkan wajah Islam yang menyejukan di ruang publik melalui pemahaman agama yang komprehensif dan kontekstual.
Dalam ceramahnya, Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag., menjelaskan bahwa Islam dapat tampil sebagai agama yang membawa kesejukan apabila dipahami secara otentik, yaitu sesuai dengan tujuan pewahyuan Allah Swt. dan dakwah Rasulullah saw. Ia mengutip Surah Al-Anbiya ayat 107 tentang rahmatan lil ‘alamin. “Islam diwahyukan untuk mewujudkan rahmat Allah bagi seluruh alam,” ujarnya di hadapan jemaah salat Isya dan Tarawih.
Rahmat Allah yang dimaksud adalah hayah thayyibah atau hidup yang baik, dengan tiga indikator utama, yaitu sejahtera (lahum ajruhum ’inda rabbihim), damai (wala khaufun ’alaihim), dan bahagia (wala hum yahzanun) baik di dunia maupun di akhirat.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa konsep Islam rahmatan lil ’alamin dijabarkan dalam Al-Quran melalui istilah syari’atan minal amr sebagaimana termuat dalam Surah Al-Jatsiyah ayat 18. Mengutip tafsir karya Ar-Razi, syariat tidak hanya mencakup urusan agama, tetapi juga urusan dunia. “Syariat adalah jalan mengelola urusan agama dan dunia sekaligus,” jelasnya.
Terdapat lima aspek utama dalam syariat tersebut, yaitu Al-Kitab yang mencakup tauhid, ibadah, dan amal kebajikan; al-hukmah atau kekuasaan untuk mengatur kehidupan secara adil; an-nubuwuh yang meneladani peran para nabi dalam membangun peradaban, kemakmuran, serta keunggulan umat.
Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag., juga mencontohkan bagaimana para nabi membangun peradaban, mulai dari Nabi Adam yang membangun peradaban berpakaian, Nabi Idris memperkenalkan pakaian yang dijahit dan budaya tulis dengan pema, Nabi Nuh membangun peradaban pelayaran, Nabi Saleh membangun peradaban peternakan, Nabi Ibrahim membangun peradaban kemanusiaan, Nabi Musa membangun peradaban hukum hingga Nabi Muhammad saw. Membangun peradaban literasi melalui wahyu iqra’.
Pada akhir ceramah, ia mengajak umat islam untuk memahami dan mengamalkan syariat secara utuh agar mampu menghadirkan Islam yang menenangkan, bukan menakutkan. ”Jika kita mengamalkan syariat secara menyeluruh, umat Islam dapat menjadi umat yang makmur dan unggul,” tutupnya. (Juni)
