Kupas Tuntas Fikih Lingkungan, Pengajian Ramadan PWM DIY Tekankan Pentingnya Kesalehan Ekologis

Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag., pemateri Pengajian PWM DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Rangkaian Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hari kedua resmi dilanjutkan pada Ahad, 1 Maret 2026 di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Memasuki sesi Materi III, pengajian kali ini mengangkat fokus yang sangat relevan dengan isu global saat ini, yaitu mengenai Isu Fikih Lingkungan. Sesi yang dipandu langsung oleh Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPK SDI) PWM DIY ini berlangsung khidmat dan antusias.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag., hadir sebagai narasumber utama dengan membawakan tema “Etika Islam dalam Menjaga Keseimbangan Alam”. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa Islam memiliki pandangan yang sangat komprehensif terkait pelestarian lingkungan, di mana manusia berkedudukan sebagai khalifah yang bertanggung jawab merawat bumi, bukan merusaknya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa alam dan manusia memiliki kedudukan yang setara sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, yakni subjek yang memiliki kesadaran. Oleh karena itu, hubungan antara manusia dan alam seharusnya saling merahmati (memberikan kebaikan), bukan saling menguasai. Sebagai wakil Allah, manusia diamanahkan untuk mengelola alam dengan prinsip mizan dan ihsan. Prinsip mizan berarti manusia harus senantiasa menjaga keseimbangan alam, sedangkan prinsip ihsan bermakna bahwa pengelolaan alam tersebut harus memberikan kebaikan dan manfaat yang nyata.
Idealnya, pembangunan harus berkelanjutan baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan hidup. Namun kenyataannya, hal tersebut sering kali tidak berjalan dengan semestinya, apalagi sejak zaman reformasi. Saat ini, Muhammadiyah telah menerima konsesi pengelolaan tambang dari pemerintah dengan komitmen untuk menerapkan prinsip Pertambangan Hijau demi menjaga keseimbangan lingkungan.
Sementara itu, Kepala Biro Sarana dan Prasarana UAD, Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM. selaku narasumber kedua membawakan materi dengan tema “Etika Islam & Edu-Ekologi dalam Menjaga Keseimbangan Alam”. Dalam pemaparannya, beliau menekankan konsep dasar etika Islam dalam menjaga keseimbangan alam. Selain itu, beliau menyampaikan upaya yang telah dilakukan UAD dalam melindungi alam, dimulai dengan memilah dan mendaur ulang sampah, memanfaatkan air hujan, mendaur ulang air, dan melestarikan tanaman di lingkungan kampus.
Melalui kajian ini, diharapkan warga Muhammadiyah semakin menyadari pentingnya kesalehan ekologis. Menjaga keseimbangan alam bukan sekadar anjuran sosial, melainkan bagian dari implementasi nilai-nilai keislaman yang berkemajuan dalam merespons ancaman krisis lingkungan di masa kini. (Ito)
