Implementasi Teknologi Lubang Resapan Biopori sebagai Strategi Mitigasi Genangan Air di Desa Kalibondol

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) membuat lubang resapan biopori bersama masyarakat Desa Kalibondol, Kecamatan Sentolo (Foto. KKN UAD)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan program implementasi teknologi lubang resapan biopori bersama masyarakat Desa Kalibondol, Kecamatan Sentolo, pada Minggu, 22 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mitigasi genangan air sekaligus meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah di kawasan permukiman.
Sebanyak sekitar 15 partisipan yang terdiri dari mahasiswa KKN UAD dan masyarakat Desa Kalibondol terlibat dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa yang berpartisipasi antara lain Issac, Gadis, Libel, Hapni, Rafi, Alfi, Aqli, Alya, dan Nunuk. Program ini menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan, khususnya dalam mengurangi genangan air serta meningkatkan daya resap tanah melalui penerapan teknologi biopori berbasis partisipasi masyarakat.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh menurunnya kapasitas infiltrasi tanah akibat meningkatnya dominasi permukaan kedap air di lingkungan permukiman. Selain itu, pengelolaan sampah organik rumah tangga yang belum optimal juga menjadi salah satu faktor yang memicu permasalahan lingkungan. Melalui penerapan teknologi sederhana berupa lubang resapan biopori, masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan sekaligus mengurangi potensi genangan dan banjir pada musim penghujan.
Lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna yang berfungsi meningkatkan infiltrasi air hujan melalui pembuatan lubang vertikal di dalam tanah yang diisi dengan bahan organik. Metode ini diperkenalkan oleh Kamir R. Brata sebagai pendekatan ekologis untuk memperbaiki struktur tanah melalui aktivitas organisme tanah yang secara alami membentuk pori-pori tanah. Selain meningkatkan daya serap tanah, biopori juga mampu mengurangi limpasan permukaan (runoff) serta mendukung proses pengomposan sampah organik rumah tangga.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat mengenai konsep, manfaat, serta tahapan pembuatan lubang resapan biopori. Selanjutnya, mahasiswa bersama masyarakat melakukan praktik pembuatan lubang dengan diameter sekitar 10 cm dan kedalaman 80–100 cm di beberapa titik strategis, seperti halaman rumah warga, area sekitar saluran drainase, serta lokasi yang berpotensi mengalami genangan. Lubang-lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik berupa daun kering dan sisa limbah dapur yang berfungsi sebagai media pembentukan biopori sekaligus bahan baku kompos.
Dukuh Kalibondol, Eka Febriyanti, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam mengatasi permasalahan genangan air sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah organik dan pelestarian lingkungan.
Kegiatan ini juga melibatkan Darmadi, warga yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan lingkungan. Ia dikenal memiliki kompetensi dalam pembuatan pupuk organik, pemanfaatan lubang resapan biopori, serta pengolahan sampah rumah tangga. Dalam kesempatan tersebut, Darmadi turut berbagi pengetahuan sekaligus memberikan praktik langsung kepada masyarakat mengenai pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk yang bermanfaat bagi tanaman.
Menurut Darmadi, penerapan biopori tidak hanya berfungsi meningkatkan daya serap air ke dalam tanah dan mengurangi potensi genangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pengomposan alami yang menghasilkan pupuk organik. Dengan metode yang sederhana dan mudah diterapkan, masyarakat diharapkan dapat lebih aktif dalam mengelola sampah organik sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
Partisipasi masyarakat, khususnya ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Indah, menunjukkan respons positif terhadap pelaksanaan program ini. Secara kualitatif, kegiatan tersebut dinilai mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya konservasi air hujan serta pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga.
Ke depan, program biopori diharapkan dapat diintegrasikan dengan kegiatan kerja bakti rutin maupun program lingkungan desa. Selain itu, monitoring secara berkala juga diperlukan untuk memastikan keberlanjutan fungsi lubang resapan biopori. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas lingkungan permukiman, mengurangi risiko genangan air, serta menumbuhkan perilaku pro-lingkungan di tengah masyarakat. (Dnd)
