KKN UAD Kenalkan Media Pengolahan Limbah Sampah Dapur

Mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kenalkan media pengolahan limbah sampah dapur (Foto. KKN UAD).jpg
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 159 Unit II.D.2 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta memberikan edukasi mengenai pemanfaatan limbah galon sebagai bahan pembuatan ember tumpuk untuk pengolahan sampah organik menjadi kompos dan air lindi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Padukuhan Siwalan, Kalurahan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pelatihan pemanfaatan limbah galon dan pengolahan sampah organik rumah tangga ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah dapur, seperti sisa sayuran dan bahan organik lainnya, sebagai bahan dasar pembuatan kompos dan air lindi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 35 peserta yang merupakan anggota ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Padukuhan Siwalan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UAD Unit II.D.2 berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah dapur secara sederhana dan ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah galon sebagai ember tumpuk juga diharapkan dapat menjadi alternatif pengolahan sampah yang mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga sekaligus menghasilkan kompos dan air lindi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman. Tim KKN UAD Unit II.D.2 berjumlah 9 mahasiswa, terdiri atas Bagus Al Mujadid, Eris Isneni, Meisya Shafa Putri Nabila, Racima Sinaisy, Muhammad Naffis Khoirulich, Asri Indah Lestari, Mumtaz Dayyana, Ranti Elvin Azkia, dan Ezra Salsa.
Pelatihan dan pendampingan pemilihan sampah organik dan anorganik dengan metode ember tumpuk dilaksanakan pada Kamis, 20 Agustus 2026, bertempat di Balai Kalurahan Sentolo. Pelaksanaan kegiatan tersebut didampingi oleh Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UAD Siti Kurnia Widi Hastuti, S.K.M., M.P.H., selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Materi disampaikan oleh Shafa dan Racima, yang meliputi pengelolaan sampah, definisi sampah, jenis sampah, bahaya sampah bagi kesehatan, perilaku membuang sampah yang benar, cara pengelolaan sampah dengan Reduce, Reuse, Recycle (3R), pengelolaan sampah organik dengan ember tumpuk, pupuk organik dan cara pembuatannya.
Selanjutnya, Mahasiswa KKN UAD bersama ibu-ibu PKK melakukan praktik pembuatan ember tumpuk dan melakukan praktik pengisian ember tumpuk dengan sampah organik di salah satu kediaman anggota ibu-ibu PKK. Tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang pemanfaatan sampah organik dan anorganik yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di waktu yang akan datang misal dengan pemanfaatan sampah dapur sebagai bahan pembuatan kompos dan air lindi untuk menyuburkan tanaman.
Shafa dan Racima selaku penanggung jawab program menyampaikan bahwa banyak warga yang masih memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan, jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi masalah pada lingkungan sekitar, padahal jika kita dapat memanfaatkan dengan baik bisa menjadi penyelesaian masalah sampah organik dan anorganik.
“Pengelolaan sampah yang buruk tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menjadi sarang penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat. Melalui inovasi ember tumpuk dari galon bekas ini, kita tidak hanya mengurangi sampah anorganik di lingkungan, tetapi juga mengolah sampah dapur organik menjadi pupuk yang higienis serta menciptakan lingkungan pemukiman yang jauh lebih bersih dan sehat,” jelas Siti.
Agus Sumarno selaku Dukuh Siwalan menyampaikan harapannya bahwa setelah kegiatan tersebut, pengetahuan masyarakat semakin meningkat terkait pemanfaatan sampah organik dan anorganik serta pemanfaatan hasil kompos dan air lindi. Beliau juga berharap masyarakat dapat mempraktikkan langsung hasil pelatihan tersebut secara berkelanjutan. Selain itu, dengan adanya pupuk kompos, masyarakat diharapkan dapat menghemat biaya daripada harus membelinya. Program tersebut juga diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan di setiap rumah.
Semboyan ketahanan pangan yang disampaikan adalah “nandur apa yang dipangan, mangan apa yang ditandur”. Harapannya, setiap rumah memiliki ketahanan pangan sehingga hasil tanaman dapat dimanfaatkan dan diolah untuk kebutuhan pangan sehari-hari. (Anove)
