Dandi Saputra Mahasiswa UAD Raih Juara 2 Kompetisi Esai Nasional

Dandi Saputra Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) raih juara 2 kompetisi esai nasional (Foto. Dandi)
Prestasi membanggakan kembali diukir oleh mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dandi Saputra, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK), angkatan 2024, kembali menorehkan prestasinya dengan berhasil menyabet Juara 2 dalam ajang Essay Competition Nasional 2026.
Kompetisi bergengsi tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Perlombaan yang berlangsung maraton sejak 5 Mei hingga 10 Juni tersebut memuncak pada hari pengumuman pemenang, tepatnya pada Selasa, 11 Juni 2026. Dandi sukses mengamankan podium kedua pada kategori Sosial Budaya setelah menyisihkan berbagai karya inovatif dari mahasiswa lintas perguruan tinggi di Indonesia.
Dalam karya tulisnya, Dandi membidik fenomena sosiokultural yang sangat relevan dengan realitas kontemporer, yakni pergeseran nilai-nilai komunal di tengah masyarakat modern akibat derasnya arus digitalisasi.
“Saya lebih fokus mengambil masalah tentang ‘Pudarnya Budaya Gotong Royong di Era Individualisme’. Karena menurut saya, nilai gotong royong sebagai identitas bangsa mulai bergeser dan masyarakat semakin individualistis akibat perubahan gaya hidup dan digitalisasi. Jika dibiarkan, modal sosial masyarakat dapat melemah sehingga solidaritas dan kepedulian antarsesama berkurang,” ujar Dandi saat diwawancarai.
Ide penulisan ini tidak datang dari ruang hampa. Dandi mengaku tergerak secara personal setelah mengamati langsung lingkungan sekitarnya, di mana tradisi-tradisi guyub khas nusantara kini kian langka ditemui.
“Inspirasi ini muncul ketika saya memang secara langsung melihat kegiatan sosial tersebut sudah jarang sekali ada dan terlihat di era saat ini. Dari situ saya kepikiran untuk mengangkat topik ini sebagai salah satu permasalahan sosial budaya yang cukup berdampak,” imbuhnya.
Sebagai langkah solutif atas permasalahan tersebut, Dandi menawarkan sebuah gagasan segar yang ia beri nama gagasan ‘Gotong Royong Adaptif’. Konsep ini merupakan sebuah upaya pembaruan nilai lokal agar selaras dengan kebutuhan generasi masa kini.
“Singkatnya, solusi yang diberikan itu membangun model Gotong Royong Adaptif, yaitu pembaruan nilai gotong royong yang memadukan teknologi digital, pendidikan berbasis proyek sosial, serta dukungan kebijakan pemerintah agar gotong royong tetap relevan dengan gaya hidup masyarakat modern,” jelas mahasiswa berprestasi angkatan 2024 tersebut.
Kendati berhasil meraih juara, proses penyusunan esai ini diakui Dandi tidak berjalan tanpa hambatan. Ia membagikan cerita jujur mengenai dinamika internal yang dialaminya selama melakukan riset literatur dan pengumpulan data pendukung.
“Tantangan utama yang pasti melawan rasa malas untuk membaca atau mencari data pendukungnya. Sebenarnya banyak data yang bisa didapat dan data-datanya lumayan konkret serta relevan semua, namun untuk membaca dan menganalisisnya kadang sedikit malas,” akunya jujur seraya tersenyum.
Meski sempat didera kejenuhan, ketekunan Dandi akhirnya membuahkan hasil manis. Gelar juara ini ia persembahkan untuk orang-orang terdekat yang tiada henti memberikan suntikan moral, termasuk dari pihak akademisi kampus UAD.
“Yang pasti alhamdulillah saya bersyukur karena diberikan kepercayaannya untuk menyandang gelar juara tersebut. Dukungan terbesar yang pasti dari ibu saya sendiri, lalu Ibu Tanti selaku dosen yang mengasuh saya, dan teman-teman terdekat saya, karena beliau-beliau ini selalu mendukung setiap langkah yang saya ambil,” ungkap Dandi penuh rasa syukur.
Prestasi ini tidak membuat Dandi lekas berpuas diri. Ia berkomitmen agar konsep esai yang ditulisnya tidak sekadar berakhir sebagai tumpukan kertas, melainkan dapat direalisasikan ke dalam tindakan nyata di masyarakat luas melalui kolaborasi strategis.
“Rencana selanjutnya saya akan mencoba mendiskusikan ini dengan lembaga pemerintahan di tempat saya. Kemudian akan mencoba diimplementasikan dan diimprovisasikan lagi di lingkungan tempat saya tinggal nanti, semoga dengan langkah ini permasalahan tersebut akan tersolusikan,” pungkasnya optimis.
Di akhir sesi wawancara, Dandi juga menitipkan pesan mendalam sekaligus ajakan bagi seluruh rekan-rekan mahasiswa, khususnya di lingkungan UAD, untuk memperkuat kepekaan sosial serta mengambil peran aktif sebagai agen perubahan bagi bangsa.
“Saran saya mungkin generasi muda harus peka juga terhadap isu sosial budaya. Terlebih kita sebagai generasi muda juga harus menjadi penggerak jika kita menemukan isu sosial yang mungkin masih bisa kita carikan solusi. Untuk mahasiswa yang ingin berprestasi, mungkin tolong lebih peka terhadap isu dan permasalahan lingkungan sekitar kita, karena dengan kesadaran kita, kita bisa merubah,” tutupnya tegas. (Anove)
