Nayla Fatimah 16 Tahun, Mahasiswa Termuda UAD

Nayla Fatimah berusia 16 tahun, mahasiswa baru termuda Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Nayla)
Langkah awal menuju bangku perkuliahan kerap kali diwarnai kecanggungan dan adaptasi baru. Hal ini dirasakan betul oleh Nayla Fatimah Az-Zahra, mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2026 asal Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, Nayla resmi menyandang status sebagai mahasiswa baru.
Perjalanan akademis Nayla yang terbilang melaju pesat ini bukan lantaran program akselerasi, melainkan karena ia sudah mengenyam pendidikan sejak usia yang sangat dini.
“Saya masuk SD pada usia 4 tahun di SDIT Asiah Sampit. Kemudian, melanjutkan ke MTsN Sampit usia 10 tahun, dan MAN Kotawaringin Timur usia 13 tahun,” ujar mahasiswi yang hobi menyanyi ini. Orang tuanya merencanakan pendidikan lebih awal karena kesibukan, hingga memasukkan Nayla ke TK B saat usianya baru 3 tahun.
Menentukan arah studi tentu membutuhkan pertimbangan matang. Pilihan Nayla akhirnya jatuh pada Program Studi Psikologi UAD yang telah berakreditasi Unggul. Minatnya yang besar untuk mempelajari dinamika manusia—mulai dari pola pikir, perasaan, hingga perilaku—menjadi dorongan utama baginya untuk menimba ilmu di kampus ini. Kehadiran Nayla di lingkungan kampus membawa rasa bangga sekaligus haru bagi keluarga dan teman-teman terdekatnya. Tak jarang, teman-teman seangkatannya terkejut saat mengetahui usianya yang jauh lebih muda.
Memasuki fase perkuliahan, tantangan terbesar yang dihadapi Nayla bukanlah soal materi pelajaran, melainkan kemandirian. Menginjakkan kaki di tanah rantau memaksanya belajar mengurus kebutuhan pribadi tanpa bergantung pada orang tua.
“Salah satu tantangan terbesar adalah belajar menjadi lebih mandiri dalam mengatur diri sendiri. Ketika masih di rumah, saya terbiasa diingatkan oleh orang tua. Sekarang, saya harus lebih memahami diri sendiri,” ungkapnya.
Soal interaksi sosial, tumbuh besar di antara orang-orang yang lebih tua membuat Nayla tidak terlalu asing berbaur dengan rekan seangkatannya. Meski begitu, perasaan canggung atau minder terkadang tetap menghampiri. Ada saat-saat ia merasa ragu dalam menyampaikan pandangan karena khawatir akan perbedaan pola pikir akibat rentang usia. Untuk mengatasi hal tersebut, Nayla memilih untuk terus belajar membuka diri. Ia menanamkan pemikiran bahwa perbedaan usia adalah ruang untuk saling belajar, dan setiap individu memiliki fase kembangnya masing-masing.
Selama menempuh masa studi di UAD, Nayla bertekad memanfaatkan setiap peluang untuk mengasah diri dan memperluas pengalaman. Bagi anak-anak muda lain yang mungkin akan menghadapi situasi serupa, Nayla menitipkan pesan agar tetap teguh dan berani.
“Menjalani perkuliahan di usia muda memang tidak selalu mudah karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Namun, jalani prosesnya dengan baik dan manfaatkan kesempatan yang ada untuk terus belajar dan berkembang,” tuturnya. (Anove)
