Satu Dekade, Satu Persaudaraan: Jejak Mahasiswa UAD di Sangkhom Islam Wittaya School

Mahasiswa PLP-KKN Internasional Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Sangkhom Islam Wittaya School, Songkhla, Thailand (Foto. Istimewa)
Ada perjalanan yang tidak selesai ketika seseorang kembali ke tanah air. Ia menetap dalam ingatan, tumbuh menjadi pengalaman, dan terkadang meninggalkan jejak pada tempat yang pernah disinggahi. Begitulah kisah mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ketika menempuh PLP-KKN Internasional di Sangkhom Islam Wittaya School, Songkhla, Thailand. Mereka adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang terdiri dari Restu nandayu, Adam Hafidz, dan Nazwa Widhy Azzurha, serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Najwa Lelya Mawarda.
Selama hampir satu bulan, 10 Agustus hingga 4 September 2026, mahasiswa tidak sekadar hadir sebagai calon pendidik yang menjalankan praktik kependidikan. Mereka datang membawa pengetahuan dari Indonesia, tetapi pada saat yang sama membuka diri untuk belajar dari lingkungan baru. Di ruang kelas, halaman sekolah, masjid, hingga tengah masyarakat, mereka menemukan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang apa yang diajarkan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang hadir, beradaptasi, dan memberi makna bagi orang lain.
Kehadiran mahasiswa UAD di Sangkhom juga bukan cerita yang baru dimulai tahun ini. Hubungan antara UAD dan Sangkhom Islam Wittaya School telah terjalin sekitar satu dekade. Selama rentang tersebut, mahasiswa dan alumni UAD datang silih berganti untuk belajar, mengajar, berinteraksi, sekaligus meninggalkan pengalaman yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan sekolah.
Tahun ini, cerita itu kembali dilanjutkan.
Mahasiswa ditempatkan pada jenjang Prathom atau sekolah dasar dan Anuban atau taman kanak-kanak. Di sana, mereka mendampingi peserta didik dalam berbagai aktivitas pembelajaran, termasuk pengajaran Al-Qur’an. Huruf hijaiyah, tanda baca, tartil, hingga hafalan ayat-ayat pilihan menjadi bagian dari proses belajar. Namun, mengajar di negeri lain membuat mahasiswa menyadari bahwa metode yang berhasil di satu tempat belum tentu dapat diterapkan begitu saja di tempat lain.
Perbedaan bahasa, kebiasaan, dan karakter peserta didik menuntut mahasiswa untuk lebih peka. Mereka harus menemukan cara berkomunikasi yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami anak-anak.
Pada titik inilah praktik lapangan menemukan maknanya. Teori yang selama ini dipelajari di ruang kuliah berhadapan langsung dengan situasi nyata. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga membaca keadaan, memahami peserta didik, dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran.
Dari sana, ruang kelas tidak lagi sekadar tempat mengajar. Ia menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman pendidikan Indonesia dan kehidupan masyarakat Muslim di Thailand. Jika mahasiswa belajar mengenal Thailand, mereka juga membawa Indonesia untuk diperkenalkan kepada warga sekolah. Melalui Indonesia Day, kekayaan Nusantara dihadirkan dalam bentuk yang dekat dengan dunia anak-anak. Nasi pecel menjadi salah satu pintu untuk mengenalkan kuliner Indonesia. Batik diperkenalkan melalui kegiatan mewarnai. Senjata tradisional, pentas seni, hingga film dokumenter turut menjadi bagian dari cara mahasiswa memperkenalkan Indonesia.
Hal-hal sederhana tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak selalu harus diperkenalkan melalui penjelasan panjang. Sepiring makanan, selembar kain, sebuah pertunjukan, atau sebuah cerita dapat menjadi jembatan untuk memahami masyarakat yang berbeda.
Menariknya, proses itu berlangsung dua arah. Ketika mahasiswa memperkenalkan Indonesia kepada siswa Thailand, mereka juga belajar bagaimana budaya Indonesia diterima, ditafsirkan, dan dipahami dari sudut pandang masyarakat di negara lain. Pengabdian mahasiswa kemudian berkembang ke berbagai aspek kehidupan siswa. Nilai-nilai keislaman diperkenalkan melalui lomba adzan, tartil Al-Qur’an, dan nasyid Asmaul Husna.
Lomba tidak sekadar menghadirkan suasana kompetitif. Di dalamnya terdapat kesempatan bagi siswa untuk melatih keberanian, membangun kepercayaan diri, dan menunjukkan kemampuan mereka. Begitu pula dengan Gerakan Anti Bullying. Mahasiswa menggunakan materi edukatif, film, dan permainan inovatif untuk membantu siswa memahami pentingnya menghargai teman serta menciptakan lingkungan yang aman.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dapat hadir dalam banyak bentuk. Nilai tentang keberanian, kepedulian, dan saling menghargai tidak selalu harus disampaikan melalui ceramah. Anak-anak dapat belajar melalui pengalaman yang mereka jalani sendiri.
Di bidang kesehatan dan lingkungan, mahasiswa memperkenalkan pemilahan sampah, piket, Kamis Bersih, program gizi “Ini Piringku”, serta praktik menyikat gigi bagi anak-anak TK. Sementara itu, pelatihan pemadaman kebakaran menjadi salah satu cara mengenalkan keselamatan dan kesiapsiagaan sejak usia dini. Berbagai kegiatan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, pendidikan memang kerap bekerja melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang hingga menjadi bagian dari kehidupan.
Jejak pengabdian mahasiswa tidak berhenti di lingkungan sekolah. Mereka turut melakukan revitalisasi masjid, jalan sehat dan pungut sampah, serta senam sehat bersama masyarakat sekitar. Perjumpaan dengan masyarakat memberikan pengalaman yang berbeda. Mahasiswa tidak lagi berhadapan dengan peserta didik sebagai objek pembelajaran, melainkan hadir sebagai bagian dari lingkungan sosial yang mereka datangi.
Di sanalah KKN Internasional memperoleh makna yang lebih luas. Pengabdian bukan semata tentang seberapa banyak program yang dapat dilaksanakan, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir, mendengar, berinteraksi, dan memahami kehidupan masyarakat dari dekat. Mahasiswa belajar bahwa memberi tidak selalu berarti datang dengan membawa sesuatu. Terkadang, memberi berarti bersedia menjadi bagian dari kehidupan orang lain, meski hanya dalam waktu yang terbatas.
Selain pembelajaran dan pengabdian sosial, mahasiswa juga berkontribusi dalam pengembangan literasi dan media sekolah. Mereka membuat majalah dinding berbahasa Thailand, menyumbangkan buku cerita berbahasa Indonesia, serta membantu menata ruang baca. Buku-buku tersebut menjadi lebih dari sekadar bahan bacaan. Ia menjadi medium kecil yang mempertemukan bahasa dan budaya Indonesia dengan anak-anak Thailand.
Di tengah perkembangan teknologi, mahasiswa juga membantu mendokumentasikan aktivitas sekolah melalui media sosial dan video kegiatan. Dengan begitu, cerita tentang Sangkhom Islam Wittaya School tidak hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang yang terlibat, tetapi juga dapat terus dikenang melalui dokumentasi digital.
Di balik seluruh kegiatan tersebut, ada satu hal yang membuat perjalanan ini memiliki arti lebih panjang: hubungan UAD dengan Sangkhom Islam Wittaya School yang telah berlangsung sekitar sepuluh tahun. Satu dekade berarti ada banyak generasi mahasiswa yang pernah datang. Ada yang mengajar, ada yang belajar, ada yang mengenal bahasa dan budaya Thailand, dan ada pula yang kemudian kembali sebagai alumni dengan cerita masing-masing.
Jejak generasi sebelumnya membuat mahasiswa yang datang hari ini tidak benar-benar memulai dari awal. Mereka melanjutkan hubungan yang telah dibangun oleh mahasiswa dan alumni terdahulu. Kedekatan itu juga tercermin dari perhatian keluarga besar Sangkhom kepada mahasiswa UAD. Thalib Kayem, Direktur Sangkhom Islam Wittaya School, secara konsisten memperhatikan kondisi mahasiswa selama menjalankan program dan memastikan mereka merasa nyaman berada di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Preecha Roeng Samut, Kepala Prathom Sangkhom Islam Wittaya School, mengingatkan mahasiswa bahwa perbedaan negara tidak seharusnya menjadi batas bagi persaudaraan. “Kita adalah saudara. Walaupun kita berasal dari negara yang berbeda, kita tetap satu sebagai sesama Muslim. Silaturahmi harus terus dijaga.”
Pesan tersebut menjadi lebih dari sekadar ucapan penutup. Ia menjadi pengingat bahwa kerja sama pendidikan dapat berkembang menjadi hubungan kemanusiaan yang jauh lebih panjang. Program mungkin memiliki tanggal mulai dan tanggal selesai. Mahasiswa mungkin harus kembali ke Indonesia. Namun, hubungan yang telah tumbuh tidak harus berakhir bersamaan dengan selesainya program.
Hampir satu bulan di Thailand akhirnya memberikan mahasiswa UAD sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pengalaman praktik lapangan. Mereka belajar mengajarkan Al-Qur’an sekaligus belajar memahami peserta didik. Mereka mengenalkan Indonesia sekaligus belajar melihat budaya sendiri dari perspektif masyarakat lain. Mereka berbicara tentang kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan anti-bullying, sekaligus belajar bahwa perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
Mereka hadir di sekolah, masjid, dan tengah masyarakat. Mereka meninggalkan buku, dokumentasi, pengalaman, serta berbagai program. Namun, pada saat yang sama, mereka membawa pulang pemahaman baru tentang pendidikan, kebudayaan, masyarakat, dan persaudaraan. Sebab, pendidikan sejatinya tidak mengenal batas geografis. Seorang calon pendidik tidak hanya dituntut mampu berdiri di depan kelas, tetapi juga harus mampu hadir di tengah keberagaman dengan pikiran terbuka, sikap adaptif, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak hubungan UAD dan Sangkhom Islam Wittaya School mulai terjalin. Mahasiswa datang silih berganti, program terus berkembang, dan setiap generasi meninggalkan ceritanya sendiri. Kini, mereka menjadi bagian dari cerita tersebut.
Di Thailand, mahasiswa UAD belajar untuk memberi. Namun, dalam proses memberi itu pula, mereka menemukan bahwa setiap perjumpaan selalu memiliki sesuatu untuk diajarkan. Dan mungkin, di situlah makna perjalanan ini: datang untuk mengabdi, pulang dengan pemahaman yang lebih luas, dan meninggalkan persaudaraan yang tetap hidup meski jarak kembali terbentang. (Mawar)
